MENGAMBIL PENDAPAT MADZHAB BARU

MENGAMALKAN PENDAPAT YANG BERTENTANGAN DENGAN PENDAPAT EMPAT MAZHAB


Bagaimana pendapat muktamar atas pendapat salah satu sahabat atau ulama’ yang tidak cocok dengan pendapat ahli mazhab empat, bahkan ahli mazhab telah menerangkan kelemahan pendapat itu. Apakah boleh menjalankan pendapat tersebut atau tidak? Jawab: tidak boleh menjalankan pendapat yang bertentangan dengan pendapat mazhab empat, apabila tidak mengetahui syarat-syaratnya dan segala ketentuannya. Apabila orang awam berpedoman pada satu mazhab, maka ia harus cocok dengan mazhab tersebut, jika tidak maka ia harus bermazhab dengan mazhab tertentu dari empat mazhab yang ada dan tidak boleh dengan mazhab lainnya, yakni selain empat mazhab. Hal ini jika mazhabnya itu memang belum terkodifikasi, jika sudah terkodifikasi maka boleh sebagaimana dalam al-Tuhfah, redaksinya yaitu : “boleh bertaklid kepada siapapun dari empat mazhab yang ada (Maliki, Hanafi, Syafi’i, Hambali), dan juga imam mazhab lainnya yang mazhabnya terjaga dalam masalah terkait, dan terkodifikasi, sehingga diketahui syarat-syarat dan semua ketentuannya.
إذا تمسّك العاميّ بمذ هب لز مه موافقته وإلّا لز مه التّمذ هب بمذهب معيّن من الأربعة لا غيرها (قوله لا غيرها )   اي غير المذا هب الأربعة وهذ اإذالم يدوّنمذهبه. فإ ن دوّن جاز كما في التّحفة ونصّه: يجوز تقليد كلّ من الأئمّة الأربعة وكذا من عداهم ممّن حفظ مذهبه في تلك المسئلة ودوّن حتّى عرفت شروطه وسائر معتبراته



DO YOU BELIEVE ME? Kisah suami istri //

KISAH SUAMI ISTRI
Alkisah, ada sepasang suami istri. Keduanya saling mencintai. Hanya saja sifat keduanya sangat bertolak belakang. Suami berjiwa sangat tenang, dalam keadaan yang sangat sulit sekalipun. Sedang si istri sangat temperamental, senang meluapkan emosi karena sebab-sebab yang remeh.
Pada suatu hari mereka berdua melakukan perjalanan laut dg sebuah kapal. Beberapa hari mereka berada di atas samudra. Tiba-tiba terjadi angin topan, kapal oleng digoncangkan oleh ombak yang menggulung-nggulung.
Sang istri tidak mampu lagi menahan dirinya. Dia berteriak-teriak tanpa tahu apa yang mesti dilakukannya. Dia segera menemui suaminya dengan harapan akan menemukan solusi bagaimana menyelamatkan diri dari kematian yang sedang mengintai.
Seluruh penumpang kapal tidak berbeda kondisinya dari sang istri. Tapi sang istri terkejut bukan main. Ia menemukan suaminya duduk tenang seperti kebiasaannya. Sang istri bertambah marah dan menuduh suaminya tidak punya perasaan dan kepedulian.
Sang suami memandang istrinya. Dan dengan wajah kering dan pandangan marah suami menghunuskan pisau ke dada istrinya. Lalu bertanya dengan suara tegas dan serius :
“Apakah kamu tidak takut dengan pisau ini?”
Dengan penuh keheranan sang istri menjawab : “Tentu saja tidak.”
Suami bertanya lagi : “Kenapa?”
Istri menjawab : ” Karena pisau itu dipegang oleh orang yang ku percayai dan aku cintai “.
Seketika sang suami tersenyum dan berkata pada istrinya : “Begitu juga aku. Ombak-ombak yang sedang mengamuk ini berada di tangan Dzat yang aku percayai dan yang ku cintai. Jadi kenapa aku harus takut? Bukankah Dia berkuasa atas segalanya?”
Sahabatku yang dirahmati Alloh...
Maka jika ombak kehidupan menyerangmu
Angin kencang dunia menjatuhkanmu
Janganlah takut
Janganlah khawatir
Karena semua yang ada di dunia ini berada dalam genggaman tanganNya
Dia mengetahui dirimu melebihi pengetahuanmu tentang dirimu sendiri.
Dia mengetahui segala yang terbuka dan tersembunyi.
Jika kamu mencintai dan percaya kepada Nya
Maka tidak perlu takut dan khawatir.
Karena dia tidak akan mendzalimi hamba-hambaNya.
Maka sibukkan dirimu dengan memupuk cinta dan kepercayaan kepadaNya
Berjuanglah untuk selalu berada di jalanNya
Dan saat itu, segala gelombang dan angin topan yang datang dalam kehidupanmu tidak akan membuatmu khawatir apalagi ketakutan.
Karena yang perlu kau lakukan hanya bersujud padaNya dan berdo'a :
اللهم مدبرالامر بين السماء والارض دبرامري فاني لااحسن التدبير 
'Wahai Dzat yang maha mengurusi segala urusan di bumi dan langit, uruslah urusanku, karena sesungguhnya aku tidak mampu mengurusinya.'

والله أعلم بالصواب


https://t.me/semangatsubuh

STATUS POHON YANG MENJALAR KE TEMPAT ORANG LAIN

Dalam kitab-kitab fiqih dijelaskan, Apabila ada seseorang yang memiliki pohon yang rantingnya menjulur diatas tanah tetangganya,  maka orang yang memiliki pohon tersebut harus mau mengalihkan atau memotongnya. Jika ia tidak mau, maka diperbolehkan bagi tetangga tersebut untuk mengalihkannya atau memotongnya meskipun dengan tanpa izin dari aparat setempat ketika memang rantingnya tidak bisa dipindah. Selain itu, tidak diperbolehkan adanya kesepakatan antara keduanya untuk memberikan sejumlah uang sebagai ganti rugi tanahnya ditumbuhi rantang pohon, karena itu hanya sekedar membiarkan ranting pohon tumbuh diudara, kecuali apabila akar pohon tersebut merusak temboknya.Dan jika pemilik tanah diam saja, dan membiarkan ranting tersebut tumbuh, sampai berbuah diatas tanahnya, maka yang berhak atas buah tersebut adalah pemilik pohon.
Jadi, jika memang orang yang tersebut tidak terima ranting pohon orang lain tumbuh diatas tanahnya, maka ia boleh meminta kepada pemiliknya untuk menyingkirkannya, jika pemiliknya tidak mau, ia boleh menyingkirkannya sendiri, meskipun dengan cara memotongnya. Begitu juga ia boleh meminta rugi jika keberadaan pohon tersebut merusak tembok rumah atau tembok pagar rumahnya.
Sedangkan apabila ia merelakan ranting pohon tersebut tumbuh diatas tanahnya, ia tidak berhak mengambil buah tersebut, dan apabila mengambilnya harus meminta izin dulu pada pemiliknya.
Referensi:
Asnal Matholib, Juz : 2  Hal : 227
فرع له تحويل أغصان شجرة) لغيره مالت إلى هواء ملكه الخاص أو المشترك وقد (امتنع المالك) لها (من تحويلها عن هوائه و) له (قطعها) ولو (بلا) إذن (قاض إن لم تتحول) أي لم يمكن تحويلها
Bughyatul Mustarsyidin , Hal : 291
ولو انتشرت أغصان شجرة أو عروقها إلى هواء ملك الجار أجبر صاحبها على تحويلها ، فإن لم يفعل فللجار تحويلها ثم قطعها ولو بلا إذن حاكم كما في التحفة

Hasyiyah Al Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz : 3 Hal : 13
ولا يصح الصلح على بقاء الأغصان بمال لأنه اعتياض عن مجرد الهواء فإن اعتمدت على الجدران صح الصلح عنها يابسة لا رطبة لزيادتها وانتشار العروق

Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 547
كما لو انتشرت أغصان شجرة في هواء ملكه فيجبر على إزالتها وتسوية الأرض بلا أجرة مدة التسوية لعدم تعديه ، فإن رضي 
صاحب الأرض ببقائه فالغلة لمالك البذر


TEMPAT IMAM LEBIH TINGGI DARI MA'MUM


Tempat Imam (Mihrob) lebih tinggi dari Ma’mum
حديث سهل بن سعد : وَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَيْهِ فَكَبَّرَ وَكَبَّرَ النَّاسُ وَرَاءَهُ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ رَفَعَ فَنَزَلَ الْقَهْقَرَى حَتَّى سَجَدَ فِي أَصْلِ الْمِنْبَرِ ثُمَّ عَادَ حَتَّى فَرَغَ مِنْ آخِرِ صَلَاتِهِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوا بِي وَلِتَعَلَّمُوا صَلَاتِي [رواه البخاري (رقم 364) ومسلم (رقم 847) واللفظ له]
Hadits Sahl bin Sa’d rodhiyallohu ‘anhu,
Dan sungguh aku telah melihat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berdiri di atasnya lalu beliau bertakbir dan orang-orang pun bertakbir di belakang beliau sedangkan beliau berada di atas mimbar. Kemudian beliau mengangkat kepala (yakni dari ruku’-pen) lalu mundur ke belakang sehingga beliau sujud di dasar mimbar. Kemudian beliau mengulanginya sampai selesai dari akhir sholatnya. Kemudian beliau menghadap manusia lalu bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya aku melakukan hal ini agar kalian mengikuti aku dan agar kalian memelajari tata cara sholatku.” [Riwayat Bukhori (364) dan Muslim (847) dan lafadz ini milik beliau]

قال النووي : وَفِيهِ : جَوَاز صَلَاة الْإِمَام عَلَى مَوْضِع أَعْلَى مِنْ مَوْضِع الْمَأْمُومِينَ ، وَلَكِنَّهُ يُكْرَه اِرْتِفَاع الْإِمَام عَلَى الْمَأْمُوم ، وَارْتِفَاع الْمَأْمُوم عَلَى الْإِمَام لِغَيْرِ حَاجَة ، فَإِنْ كَانَ لِحَاجَةٍ بِأَنْ أَرَادَ تَعْلِيمهمْ أَفْعَال الصَّلَاة لَمْ يُكْرَه ، بَلْ يُسْتَحَبّ لِهَذَا الْحَدِيث ، وَكَذَا إِنْ أَرَادَ الْمَأْمُوم إِعْلَام الْمَأْمُومِينَ بِصَلَاةِ الْإِمَام وَاحْتَاجَ إِلَى الِارْتِفَاع
Imam Nawawi berkata, “Dalam dalam hadits ini terdapat pelajaran bolehnya sholat seorang imam di atas suatu tempat yang lebih tinggi dari tempat sholat ma’mum. Akan tetapi dibenci lebih tingginya (tempat) imam dari ma’mumnya dan sebaliknya tanpa hajat. Jika karena suatu hajat, yaitu untuk mengajarkan mereka tata cara sholat, maka tidak dibenci bahkan disukai berdasarkan hadits ini. Begitu pula jika seorang ma’mum berniat memberi tahu ma’mum yang lain tentang sholatnya imam dan membutuhkan tempat yang tinggi.” [Syarh Shohih Muslim karya An-Nawawi, Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ish Sholat, bab Jawaazul Khuthwah wal Khuthwataini fish Sholat]

yang lebih afdzol itu antara tempat imam dengan ma'mum itu sama rata tidak ada yang ditinggikan..adapun kalau tempat imam ditinggikan itu boleh kalau ada hajat tapi MAKRUH kalau tidak ada hajat
Ianatu tholibin juz 2 hal 30
ويكره إرتفاع أحدهما على الاخر بلا حاجة ولو في المسجد

Syamsul muniroh juz 1 hal 354
يكره ارتفاع المأموم على الإمام وعكسه بلا حاجة ولو فى المسجد ارتفاعا يظهر حسا وان قل حيث عده العرف ارتفاعا
Makruh hukumnya ma'mum lebih tinggi tempatnya dari imam atau sebaliknya bila tida ada hajat, meskipun di masjid dengan tinggi yang jelas secara nyata , meskipun sedikit, sekiranya 'uruf menganggap tinggi
Imam lebih tinggi dari Ma’mum
حديث سهل بن سعد : وَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَيْهِ فَكَبَّرَ وَكَبَّرَ النَّاسُ وَرَاءَهُ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ رَفَعَ فَنَزَلَ الْقَهْقَرَى حَتَّى سَجَدَ فِي أَصْلِ الْمِنْبَرِ ثُمَّ عَادَ حَتَّى فَرَغَ مِنْ آخِرِ صَلَاتِهِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوا بِي وَلِتَعَلَّمُوا صَلَاتِي [رواه البخاري (رقم 364) ومسلم (رقم 847) واللفظ له]
Hadits Sahl bin Sa’d rodhiyallohu ‘anhu,
Dan sungguh aku telah melihat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berdiri di atasnya lalu beliau bertakbir dan orang-orang pun bertakbir di belakang beliau sedangkan beliau berada di atas mimbar. Kemudian beliau mengangkat kepala (yakni dari ruku’-pen) lalu mundur ke belakang sehingga beliau sujud di dasar mimbar. Kemudian beliau mengulanginya sampai selesai dari akhir sholatnya. Kemudian beliau menghadap manusia lalu bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya aku melakukan hal ini agar kalian mengikuti aku dan agar kalian memelajari tata cara sholatku.” [Riwayat Bukhori (364) dan Muslim (847) dan lafadz ini milik beliau]

قال النووي : وَفِيهِ : جَوَاز صَلَاة الْإِمَام عَلَى مَوْضِع أَعْلَى مِنْ مَوْضِع الْمَأْمُومِينَ ، وَلَكِنَّهُ يُكْرَه اِرْتِفَاع الْإِمَام عَلَى الْمَأْمُوم ، وَارْتِفَاع الْمَأْمُوم عَلَى الْإِمَام لِغَيْرِ حَاجَة ، فَإِنْ كَانَ لِحَاجَةٍ بِأَنْ أَرَادَ تَعْلِيمهمْ أَفْعَال الصَّلَاة لَمْ يُكْرَه ، بَلْ يُسْتَحَبّ لِهَذَا الْحَدِيث ، وَكَذَا إِنْ أَرَادَ الْمَأْمُوم إِعْلَام الْمَأْمُومِينَ بِصَلَاةِ الْإِمَام وَاحْتَاجَ إِلَى الِارْتِفَاع
Imam Nawawi berkata, “Dalam dalam hadits ini terdapat pelajaran bolehnya sholat seorang imam di atas suatu tempat yang lebih tinggi dari tempat sholat ma’mum. Akan tetapi dibenci lebih tingginya (tempat) imam dari ma’mumnya dan sebaliknya tanpa hajat. Jika karena suatu hajat, yaitu untuk mengajarkan mereka tata cara sholat, maka tidak dibenci bahkan disukai berdasarkan hadits ini. Begitu pula jika seorang ma’mum berniat memberi tahu ma’mum yang lain tentang sholatnya imam dan membutuhkan tempat yang tinggi.” [Syarh Shohih Muslim karya An-Nawawi, Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ish Sholat, bab Jawaazul Khuthwah wal Khuthwataini fish Sholat]

yang lebih afdzol itu antara tempat imam dengan ma'mum itu sama rata tidak ada yang ditinggikan..adapun kalau tempat imam ditinggikan itu boleh kalau ada hajat tapi MAKRUH kalau tidak ada hajat
Ianatu tholibin juz 2 hal 30
ويكره إرتفاع أحدهما على الاخر بلا حاجة ولو في المسجد

Syamsul muniroh juz 1 hal 354
يكره ارتفاع المأموم على الإمام وعكسه بلا حاجة ولو فى المسجد ارتفاعا يظهر حسا وان قل حيث عده العرف ارتفاعا
Makruh hukumnya ma'mum lebih tinggi tempatnya dari imam atau sebaliknya bila tida ada hajat, meskipun di masjid dengan tinggi yang jelas secara nyata , meskipun sedikit, sekiranya 'uruf menganggap tinggi

FIQIH: ORANG YANG SELALU BERGERAK DALAM SHALAT

DISKRIPSI MASALAH
Ada seseorang ketika sedang sholat; mulai dari takbiratul ihrom sampai selesai selalu bergerak- gerak .
Pertanyaan:
Sahkah sholat orang tersebut. Jika tidak sah adakah pendapat yang mengesahkan hal tersebut.



Jawaban:
Jika geraknya kurang dari tiga kali hukumnya makruh ; jika gerakannya sampai tiga kali maka hukumnya batal; jika gerakannya karena penyakit /إضطرار  maka tidak batal.
Referensi:
Bugiyatul mustarsidin hal 55
( مسئلة ك) الاهتزاز في الصلاة وهو التمايل يمنة ويسرة مكروه مالم يكثر والا أبطل كالمضغ إلا أن يكون عن الاضطرار  اهـ

Al-Bjuri juz 1 hal 178
( العمل الكثير ) المتوالي كثلاثة خطوة عمدا كان كذلك او سهوا (قوله الكثير) اي في العرف وضبط بثلاثة أفعال فاكثر ولو باعضاء متعددة كان حرك رأسه ويحسب ذهاب اليد وعودها مرة واحدة مالم يسكن بينهما

BASMALAH PADA SURAT AN-NAML DAN SURAT AT-TAUBAH




Kenapa Surat At-Taubah Ga Pake Bismillah? Dan Kenapa Ada Basmalah di Surat An-Naml ayat 30. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Pasti ada sesuatu apa sih temen2 ada yang tahu ga? kasih tau dong bukan tempe loh.

Jawaban: 
Kalau baca ta'awwudz mengawali pembacaan suroh tersebut maka diperbolehkan, sedang kalau baca BASMALAH itu terjadi perbedaan pendapat diantara Ulama tentang hukum membaca BASMALAH pada awal surat "BAROO-AH" (surat attaubah)
Hawasyi syarwani juz 2 hal 36

قوله: (ومن ثم حرمت الخ) عليه منع ظاهر وفي الجعبري ما يدل على خلافه فراجعه سم عبارة ع ش قوله م ر: سورة براءة أي فلو أتى بها في أولها كان مكروها خلافا لحج حيث قال بالحرمة اه عبارة شيخنا فتكره البسملة في أولها وتسن في أثنائها كما قاله الرملي، وقيل: تحرم في أولها وتكره في أثنائها كما قاله ابن حج
Menurut Imam ROMLI hukum membaca BASMALAH pada awal surat baraooah adalah MAKRUH sedang menurut Imam Ibnu Hajar membaca basmalah diawal surat hukumnya haram, sedang di tengah surat hukumnya makruh.
kenapa dalam surat Al-baro'ah tidak diperkenan kan membaca basmalah ketika membaca awal surat? kalau dalam tafsir Qurtubi itu diterangkan bahwa basmalah imengandung kadih sayang sedangkan dlm surat Al-baro'ah menerangkan tentang masalah peperangan jd tidak diperkenan kan membaca basmalah
واختلف العلماء في سبب سقوط البسملة منها على أقوال
منها: أن البسملة رحمة وأمان و"براءة" نزلت بالسيف؛ فليس فيها أمان، وهذا القول مروي عن علي رضي الله عنه، وسفيان بن عيينة
Pertanyaan : 
Terus buat basmalah yang di an-naml kenapa tuh ada hubungannya ga dengan surat at-taubah? yah kali aja ada sesuatu?   إِنَّهُ مِن سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ  
Jawaban :
Tidak ada perbedaan diantara para ulama bahwa بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ adalah Al Quran Firman Allah Ta’alaTidak ada perbedaan diantara para ulama bahwa بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ adalah bagian ayat di dalam Al Quran surat An Naml ayat 30. Dalil yang menunjukkan akan hal ini, Allah Ta’ala berfirman:
{ إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} [النمل: 30]
Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” QS. An Naml: 30.Tidak ada perbedaan diantara para ulama bahwa بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ adalah bukan ayat dari surat TaubahTidak ada perbedaan diantara para ulama bahwa بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ adalah ayat yang telah dinukilkan penulisannya di dalam mushaf secara mutawatirTidak ada perbedaan diantara para ulama bahwa بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ adalah ayat yang telah dituliskan antara dua surat di dalam Al Quran selain antara surat Al Anfal dan At taubah. 

Ahkamul Qur'an juz 1 hal 2

قَوْله تَعَالَى : { بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } . اتَّفَقَ النَّاسُ عَلَى أَنَّهَا آيَةٌ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى فِي سُورَةِ النَّمْلِ
Firman Allah Ta’ala: { بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } manusia bersepakat bahwa ia adalah satu ayat dari Kitabullah Ta’ala di dalam Surat An Naml
At-tahbir syarah At-Tahrir maktabas syamilah
والبسملة بعض آية في سورةالنمل إجماعا ، فهي قرآ ن قطعا ، وليست في أول براءة إجماعا...وأما حكم البسملة في غير ذلك ، فالصحيح الذي عليه أكثر العلماء ، منهم : الإمام أحمد والإمام أبو حنيفة والإمام الشافعي : أنها قرآن.
Dan ucapan بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ sebagian ayat di dalam surat An Naml secara Ijma’, maka ia adalah Al Quran secara pasti dan bukan awal surat dari awal surat Bara’ah (at Taubah) secara ijma’…dan adapun hukum بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ dalam selain itu, maka pendapat yang benar yang disebutkan oleh kebanyakan para ulama, diantara mereka Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah dan Imam Asy Syafi’ie Bahwa ia adalah Al Quran.
Tafsiran dalam tafsir ibnu katsir ayat diatas (surat An-Naml ayat 30) itu menjelaskan bahwa basmalah itu pertama kali turun kepada nabi Ibrohim alaihis salam

===================================

Tafsir Ibnu katsir maktabas syamilah

{إنه من سليمان وإنه بسم الله الرحمن الرحيم * ألا تعلوا علي وأتوني مسلمين} فعرفوا أنه من نبي الله سليمان عليه السلام, وأنه لا قبل لهم به, وهذا الكتاب في غاية البلاغة والوجازة والفصاحة, فإنه حصل المعنى بأيسر عبارة وأحسنها. قال العلماء: لم يكتب أحد بسم الله الرحمن الرحيم قبل سليمان عليه السلام. وقد روى ابن أبي حاتم في ذلك حديثاً في تفسيره حيث قال: حدثنا أبي, حدثنا هارون بن الفضل أبو يعلى الخياط. حدثنا أبو يوسف عن سلمة بن صالح عن عبد الكريم أبي أمية عن ابن بريدة عن أبيه قال: كنت أمشي مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: «إني أعلم آية لم تنزل على نبي قبلي بعد سليمان بن داود
Dalam listen Arabic bahwa basmalah dalam surat An-Naml ayat 30 adalah salah satu ciri kemulyaan nya nabi ibrohim
السادسة : قوله تعالى : " إنه من سليمان وإنه بسم الله الرحمن الرحيم " ( وإنه ) بالكسر فيهما أي وإن الكلام ، أو إن مبتدأ الكلام " بسم الله الرحمن الرحيم " . وأجاز الفراء أنه من سليمان وأنه بفتحهما جميعاً على أن يكونا في موضع رفع بدل من الكتاب ، بمعنى ألقى إلى أنه من سليمان . وأجاز أن يكونا في موضع نصب على حذف الخافض ، أي لأنه من سليمان ولأنه ، كأنها عللت كرمه بكونه من سليمان وتصديره بسم الله
Dalam Multaqo ahli tafsir maktabas syamilah tafsiran surat An-Naml ayat 30 adalah bahwa basmalah disana adalah satu ayat yang pertama ditulis dalam kitabnya nabi ibrohim dan dijadikan rahmat untuk manusia umum

===================================

Tafsir Multaqo ahli tafsir maktabas syamilah
﴿ إنه من سليمان وإنه باسم الله الرحمن الرحيم ألا تعلوا عليّ وأتوني مسلمين ﴾ النمل 30 ـ 31 أن سليمان رسول الله إلى الناس وأن كتابه هذا هو من رسالته إليهم وهم أعم من بني إسرائيل فزيادة التكليف بقدر زيادة التمكين كما بينت في فقه المرحلية ، ويأتي لاحقا سبب ابتداء فاتحة الكتاب كالسور بـ ﴿ باسم الله الرحمن الرحيم ﴾ وسبب إيراد اسم الرحمة فيها وفي كتاب سليمان وإنما يتم المعنى في ما تقدم باسم الله إذ هو من تكليف الله عباده فهو مما يقدرون عليه ويستطيعونه ويسع كلا الطاعة والعصيان


RAHASIA DIBALIK BACAAN KERAS DAN PELAN DALAM SHALAT

Hikmahnya magrib dan isya' di dikeraskan krn untuk mncari klezatan munajatnya hamba pd TUHANnya klo dzuhur ashar di pelankan krn siang wktu kesibukan dan bercampurnya para manusia krn tidak pantas untuk mngheningkan diri pd munajatnya,,sedangkan shubuh disamakn sholat malam {magrib dan isya'} krn bukan waktu kesibukan.
Ianatut tholibin juz 1 hal 153.
قوله يسن الجهر ) أي ولو خاف الرياء قال ع ش والحكمة في الجهر في موضعه أنه لما كان الليل محل الخلوة ويطيب فيه السمر شرع الجهر فيه طلبا للذة مناجاة العبد لربه وخص بالأوليين لنشاط المصلي فيهما والنهار لما كان محل الشواغل والاختلاط بالناس طلب فيه الإسرار لعدم صلاحيته للتفرغ للمناجاة وألحق الصبح بالصلاة الليلية لأن وقته ليس محلا للشواغل

HIKMAH BACAAN KERAS DAN PELAN DIWAKTU-WAKTU SHALAT
حِكْمَةُ الْجَهْرِ فِي مَوْضِعِهِ وَالْإِسْرَارُ فِي مَوْضِعِهِ أَنَّهُ لَمَّا كَانَ اللَّيْلُ مَحَلَّ الْخَلْوَةِ وَيَطِيبُ فِيهِ السَّمَرُ شُرِعَ الْجَهْرُ فِيهِ إظْهَارًا لِلَّذَّةِ مُنَاجَاةِ الْعَبْدِ لِرَبِّهِ وَخُصَّ بِالْأُولَيَيْنِ لِنَشَاطِ الْمُصَلِّي فِيهِمَا وَالنَّهَارُ لَمَّا كَانَ مَحَلَّ الشَّوَاغِلِ وَالِاخْتِلَاطِ بِالنَّاسِ طُلِبَ الْإِسْرَارُ لِعَدَمِ صَلَاحِيَتِهِ لِلتَّفَرُّغِ لِلْمُنَاجَاةِ وَأَلْحَقَ الصُّبْحَ بِالصَّلَاةِ اللَّيْلِيَّةِ ؛ لِأَنَّ وَقْتَهُ لَيْسَ مَحَلًّا لِلشَّوَاغِلِ عَادَةً ا هـ ع ش عَلَى م ر .
Hikmah membaca keras dan pelan pada waktu shalat yaitu waktu malam adalah waktu menyendiri, waktu yang tepat untuk bercakap-cakap karenanya syariat menetapkan bacaan keras saat shalat diwaktu tersebut untuk menampakkan nikmatnya munajat seorang hamba dihadapan Tuhannya. Dan diperlakukan pada shalat maghrib serta Isya’ karena terdapat kesemangatan orang yang menjalani shalat pada waktu keduanya.Sedang waktu siang adalah waktu bekerja dan bercampur dengan orang banyak, disyaritakan membaca dengan pelan karena disiang hari tidak layak untuk menuangkan munajat pada Allah.Dan waktu shalat shubuh disamakan dengan shalat malam (maghrib serta Isya’) karena pada umumnya diwaktu inipun orang belum tersibukkan dengan aneka pekerjaan.
Hasyiyah al-Jamal III/326

والحكمة في طلب الجهر في صلاة الليل والإسرار في صلاة النهار أن صلاة الليل تقع في الأوقات المظلمة فينبه القارئ بجهره المارة، وللأمن من لغو الكافر عند سماع القرآن لاشتغاله غالبًا في الليل بالنوم أو غيره بخلاف النهار، وإنما طلب الجهر في الجمعة والعيدين لحضور أهل البوادي والقرى فأمر القارئ بالجهر ليسمعوه فيحصل لهم الاتعاظ بسماعه.
Hikmah diperlakukannya mengeraskan bacaan dishalat malam (maghrib, isya’ dan shubuh) serta diperlakukannya melirihkan bacaan dishlat waktu siang (dhuhur dan ashar) adalah sesungguhnya shalat malam terjadi disaan waktu-waktu gelap maka dengan suara kerasnya orang yang membaca al-Quran diharapkan dapat mengingatkan orang-orang yang lewat disamping waktu malam adalah waktu yang aman dari kesia-siaan orang kafir saat mendengar bacaan al-Quran sebab mereka pada umumnya sedang beristirahat atau sibuk dengan hal lainnya berbeda dengan waktu siang hari.Dan diperlakukan mengeraskan bacaan dishalat jumah dan hari raya karena kehadiran orang-orang pedalaman, pedesaan untuk menjalankan shalat berjamah maka diperintahkan mengeraskan bacaan agar mereka dapat mengambil wejangan saat mendengar bacaan al-Quran.
Al-Fawakih ad-Dawaany I/505

Hikmahnya bacaan sholat pada malam hari (magrib, isya, subuh) disariatkan dibaca keras, karena malam adalah waktu sepi, sebagai penampakan kenikmatan munajat hamba pada Robbnya. sebaliknya bacaan siang dipelankan, karena siang adalah waktu sibuk antar manusia, sehingga dipelankan karena waktu ini tidak sesuai pada kefokusan munajat.
:حِكْمَةُ الْجَهْرِ فِي مَوْضِعِهِ وَالْإِسْرَارُ فِي مَوْضِعِهِ أَنَّهُ لَمَّا كَانَ اللَّيْلُ مَحَلَّ الْخَلْوَةِ وَيَطِيبُ فِيهِ السَّمَرُ شُرِعَ الْجَهْرُ فِيهِ إظْهَارًا لِلَّذَّةِ مُنَاجَاةِ الْعَبْدِ لِرَبِّهِ وَخُصَّ بِالْأُولَيَيْنِ لِنَشَاطِ الْمُصَلِّي فِيهِمَا وَالنَّهَارُ لَمَّا كَانَ مَحَلَّ الشَّوَاغِلِ وَالِاخْتِلَاطِ بِالنَّاسِ طُلِبَ الْإِسْرَارُ لِعَدَمِ صَلَاحِيَتِهِ لِلتَّفَرُّغِ لِلْمُنَاجَاةِ وَأَلْحَقَ الصُّبْحَ بِالصَّلَاةِ اللَّيْلِيَّةِ؛ لِأَنَّ وَقْتَهُ لَيْسَ مَحَلًّا لِلشَّوَاغِلِ عَادَةً اهـ ع ش عَلَى م ر.
(Hasyiyah Al-Jamal)
Back To Top