Home » Arsip untuk 2019
MENGAMALKAN PENDAPAT YANG BERTENTANGAN DENGAN
PENDAPAT EMPAT MAZHAB
Bagaimana pendapat muktamar atas pendapat salah satu sahabat atau ulama’ yang tidak cocok
dengan pendapat ahli mazhab empat, bahkan ahli mazhab telah menerangkan
kelemahan pendapat itu. Apakah boleh menjalankan pendapat tersebut atau tidak?
Jawab: tidak boleh menjalankan pendapat yang bertentangan dengan pendapat
mazhab empat, apabila tidak mengetahui syarat-syaratnya dan segala
ketentuannya. Apabila orang awam berpedoman pada satu mazhab, maka ia harus
cocok dengan mazhab tersebut, jika tidak maka ia harus bermazhab dengan mazhab
tertentu dari empat mazhab yang ada dan tidak boleh dengan mazhab lainnya,
yakni selain empat mazhab. Hal ini jika mazhabnya itu memang belum
terkodifikasi, jika sudah terkodifikasi maka boleh sebagaimana dalam al-Tuhfah,
redaksinya yaitu : “boleh bertaklid kepada siapapun dari empat mazhab yang ada
(Maliki, Hanafi, Syafi’i, Hambali), dan juga imam mazhab lainnya yang mazhabnya
terjaga dalam masalah terkait, dan terkodifikasi, sehingga diketahui
syarat-syarat dan semua ketentuannya.
إذا
تمسّك العاميّ بمذ هب لز مه موافقته وإلّا لز مه التّمذ هب بمذهب معيّن من الأربعة
لا غيرها (قوله لا غيرها ) اي غير المذا هب الأربعة وهذ اإذالم
يدوّنمذهبه. فإ ن دوّن جاز كما في التّحفة ونصّه: يجوز تقليد كلّ من الأئمّة
الأربعة وكذا من عداهم ممّن حفظ مذهبه في تلك المسئلة ودوّن حتّى عرفت شروطه وسائر
معتبراته
Bagaimana pendapat muktamar atas pendapat salah satu sahabat atau ulama’ yang tidak cocok
dengan pendapat ahli mazhab empat, bahkan ahli mazhab telah menerangkan
kelemahan pendapat itu. Apakah boleh menjalankan pendapat tersebut atau tidak?
Jawab: tidak boleh menjalankan pendapat yang bertentangan dengan pendapat
mazhab empat, apabila tidak mengetahui syarat-syaratnya dan segala
ketentuannya. Apabila orang awam berpedoman pada satu mazhab, maka ia harus
cocok dengan mazhab tersebut, jika tidak maka ia harus bermazhab dengan mazhab
tertentu dari empat mazhab yang ada dan tidak boleh dengan mazhab lainnya,
yakni selain empat mazhab. Hal ini jika mazhabnya itu memang belum
terkodifikasi, jika sudah terkodifikasi maka boleh sebagaimana dalam al-Tuhfah,
redaksinya yaitu : “boleh bertaklid kepada siapapun dari empat mazhab yang ada
(Maliki, Hanafi, Syafi’i, Hambali), dan juga imam mazhab lainnya yang mazhabnya
terjaga dalam masalah terkait, dan terkodifikasi, sehingga diketahui
syarat-syarat dan semua ketentuannya.
KISAH SUAMI ISTRI
Alkisah, ada sepasang suami istri. Keduanya saling mencintai. Hanya saja sifat keduanya sangat bertolak belakang. Suami berjiwa sangat tenang, dalam keadaan yang sangat sulit sekalipun. Sedang si istri sangat temperamental, senang meluapkan emosi karena sebab-sebab yang remeh.
Pada suatu hari mereka berdua melakukan perjalanan laut dg sebuah kapal. Beberapa hari mereka berada di atas samudra. Tiba-tiba terjadi angin topan, kapal oleng digoncangkan oleh ombak yang menggulung-nggulung.
Sang istri tidak mampu lagi menahan dirinya. Dia berteriak-teriak tanpa tahu apa yang mesti dilakukannya. Dia segera menemui suaminya dengan harapan akan menemukan solusi bagaimana menyelamatkan diri dari kematian yang sedang mengintai.
Seluruh penumpang kapal tidak berbeda kondisinya dari sang istri. Tapi sang istri terkejut bukan main. Ia menemukan suaminya duduk tenang seperti kebiasaannya. Sang istri bertambah marah dan menuduh suaminya tidak punya perasaan dan kepedulian.
Sang suami memandang istrinya. Dan dengan wajah kering dan pandangan marah suami menghunuskan pisau ke dada istrinya. Lalu bertanya dengan suara tegas dan serius :
“Apakah kamu tidak takut dengan pisau ini?”
Dengan penuh keheranan sang istri menjawab : “Tentu saja tidak.”
Suami bertanya lagi : “Kenapa?”
Istri menjawab : ” Karena pisau itu dipegang oleh orang yang ku percayai dan aku cintai “.
Seketika sang suami tersenyum dan berkata pada istrinya : “Begitu juga aku. Ombak-ombak yang sedang mengamuk ini berada di tangan Dzat yang aku percayai dan yang ku cintai. Jadi kenapa aku harus takut? Bukankah Dia berkuasa atas segalanya?”
Sahabatku yang dirahmati Alloh...
Maka jika ombak kehidupan menyerangmu
Angin kencang dunia menjatuhkanmu
Janganlah takut
Janganlah khawatir
Karena semua yang ada di dunia ini berada dalam genggaman tanganNya
Dia mengetahui dirimu melebihi pengetahuanmu tentang dirimu sendiri.
Dia mengetahui segala yang terbuka dan tersembunyi.
Jika kamu mencintai dan percaya kepada Nya
Maka tidak perlu takut dan khawatir.
Karena dia tidak akan mendzalimi hamba-hambaNya.
Maka sibukkan dirimu dengan memupuk cinta dan kepercayaan kepadaNya
Berjuanglah untuk selalu berada di jalanNya
Dan saat itu, segala gelombang dan angin topan yang datang dalam kehidupanmu tidak akan membuatmu khawatir apalagi ketakutan.
Karena yang perlu kau lakukan hanya bersujud padaNya dan berdo'a :
اللهم مدبرالامر بين السماء والارض دبرامري فاني لااحسن التدبير
'Wahai Dzat yang maha mengurusi segala urusan di bumi dan langit, uruslah urusanku, karena sesungguhnya aku tidak mampu mengurusinya.'
والله أعلم بالصواب
Alkisah, ada sepasang suami istri. Keduanya saling mencintai. Hanya saja sifat keduanya sangat bertolak belakang. Suami berjiwa sangat tenang, dalam keadaan yang sangat sulit sekalipun. Sedang si istri sangat temperamental, senang meluapkan emosi karena sebab-sebab yang remeh.
https://t.me/semangatsubuh
DO YOU BELIEVE ME? Kisah suami istri //
KISAH SUAMI ISTRI
Alkisah, ada sepasang suami istri. Keduanya saling mencintai. Hanya saja sifat keduanya sangat bertolak belakang. Suami berjiwa sangat tenang, dalam keadaan yang sangat sulit sekalipun. Sedang si istri sangat temperamental, senang meluapkan emosi karena sebab-sebab yang remeh.
Pada suatu hari mereka berdua melakukan perjalanan laut dg sebuah kapal. Beberapa hari mereka berada di atas samudra. Tiba-tiba terjadi angin topan, kapal oleng digoncangkan oleh ombak yang menggulung-nggulung.
Sang istri tidak mampu lagi menahan dirinya. Dia berteriak-teriak tanpa tahu apa yang mesti dilakukannya. Dia segera menemui suaminya dengan harapan akan menemukan solusi bagaimana menyelamatkan diri dari kematian yang sedang mengintai.
Seluruh penumpang kapal tidak berbeda kondisinya dari sang istri. Tapi sang istri terkejut bukan main. Ia menemukan suaminya duduk tenang seperti kebiasaannya. Sang istri bertambah marah dan menuduh suaminya tidak punya perasaan dan kepedulian.
Sang suami memandang istrinya. Dan dengan wajah kering dan pandangan marah suami menghunuskan pisau ke dada istrinya. Lalu bertanya dengan suara tegas dan serius :
“Apakah kamu tidak takut dengan pisau ini?”
Dengan penuh keheranan sang istri menjawab : “Tentu saja tidak.”
Suami bertanya lagi : “Kenapa?”
Istri menjawab : ” Karena pisau itu dipegang oleh orang yang ku percayai dan aku cintai “.
Seketika sang suami tersenyum dan berkata pada istrinya : “Begitu juga aku. Ombak-ombak yang sedang mengamuk ini berada di tangan Dzat yang aku percayai dan yang ku cintai. Jadi kenapa aku harus takut? Bukankah Dia berkuasa atas segalanya?”
Sahabatku yang dirahmati Alloh...
Maka jika ombak kehidupan menyerangmu
Angin kencang dunia menjatuhkanmu
Janganlah takut
Janganlah khawatir
Karena semua yang ada di dunia ini berada dalam genggaman tanganNya
Dia mengetahui dirimu melebihi pengetahuanmu tentang dirimu sendiri.
Dia mengetahui segala yang terbuka dan tersembunyi.
Jika kamu mencintai dan percaya kepada Nya
Maka tidak perlu takut dan khawatir.
Karena dia tidak akan mendzalimi hamba-hambaNya.
Maka sibukkan dirimu dengan memupuk cinta dan kepercayaan kepadaNya
Berjuanglah untuk selalu berada di jalanNya
Dan saat itu, segala gelombang dan angin topan yang datang dalam kehidupanmu tidak akan membuatmu khawatir apalagi ketakutan.
Karena yang perlu kau lakukan hanya bersujud padaNya dan berdo'a :
اللهم مدبرالامر بين السماء والارض دبرامري فاني لااحسن التدبير
'Wahai Dzat yang maha mengurusi segala urusan di bumi dan langit, uruslah urusanku, karena sesungguhnya aku tidak mampu mengurusinya.'
والله أعلم بالصواب
Alkisah, ada sepasang suami istri. Keduanya saling mencintai. Hanya saja sifat keduanya sangat bertolak belakang. Suami berjiwa sangat tenang, dalam keadaan yang sangat sulit sekalipun. Sedang si istri sangat temperamental, senang meluapkan emosi karena sebab-sebab yang remeh.
https://t.me/semangatsubuh
Dalam kitab-kitab fiqih dijelaskan, Apabila ada seseorang yang memiliki pohon yang rantingnya menjulur diatas tanah tetangganya, maka orang yang memiliki pohon tersebut harus mau mengalihkan atau memotongnya. Jika ia tidak mau, maka diperbolehkan bagi tetangga tersebut untuk mengalihkannya atau memotongnya meskipun dengan tanpa izin dari aparat setempat ketika memang rantingnya tidak bisa dipindah. Selain itu, tidak diperbolehkan adanya kesepakatan antara keduanya untuk memberikan sejumlah uang sebagai ganti rugi tanahnya ditumbuhi rantang pohon, karena itu hanya sekedar membiarkan ranting pohon tumbuh diudara, kecuali apabila akar pohon tersebut merusak temboknya.Dan jika pemilik tanah diam saja, dan membiarkan ranting tersebut tumbuh, sampai berbuah diatas tanahnya, maka yang berhak atas buah tersebut adalah pemilik pohon.
Jadi, jika memang orang yang tersebut tidak terima ranting pohon orang lain tumbuh diatas tanahnya, maka ia boleh meminta kepada pemiliknya untuk menyingkirkannya, jika pemiliknya tidak mau, ia boleh menyingkirkannya sendiri, meskipun dengan cara memotongnya. Begitu juga ia boleh meminta rugi jika keberadaan pohon tersebut merusak tembok rumah atau tembok pagar rumahnya.
Sedangkan apabila ia merelakan ranting pohon tersebut tumbuh diatas tanahnya, ia tidak berhak mengambil buah tersebut, dan apabila mengambilnya harus meminta izin dulu pada pemiliknya.
Referensi:
Asnal Matholib, Juz : 2 Hal : 227
فرع له تحويل أغصان شجرة) لغيره مالت إلى هواء ملكه الخاص أو المشترك وقد (امتنع المالك) لها (من تحويلها عن هوائه و) له (قطعها) ولو (بلا) إذن (قاض إن لم تتحول) أي لم يمكن تحويلها
Bughyatul Mustarsyidin , Hal : 291
ولو انتشرت أغصان شجرة أو عروقها إلى هواء ملك الجار أجبر صاحبها على تحويلها ، فإن لم يفعل فللجار تحويلها ثم قطعها ولو بلا إذن حاكم كما في التحفة
Hasyiyah Al Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz : 3 Hal : 13
ولا يصح الصلح على بقاء الأغصان بمال لأنه اعتياض عن مجرد الهواء فإن اعتمدت على الجدران صح الصلح عنها يابسة لا رطبة لزيادتها وانتشار العروق
Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 547
كما لو انتشرت أغصان شجرة في هواء ملكه فيجبر على إزالتها وتسوية الأرض بلا أجرة مدة التسوية لعدم تعديه ، فإن رضي
صاحب الأرض ببقائه فالغلة لمالك البذر
STATUS POHON YANG MENJALAR KE TEMPAT ORANG LAIN
Dalam kitab-kitab fiqih dijelaskan, Apabila ada seseorang yang memiliki pohon yang rantingnya menjulur diatas tanah tetangganya, maka orang yang memiliki pohon tersebut harus mau mengalihkan atau memotongnya. Jika ia tidak mau, maka diperbolehkan bagi tetangga tersebut untuk mengalihkannya atau memotongnya meskipun dengan tanpa izin dari aparat setempat ketika memang rantingnya tidak bisa dipindah. Selain itu, tidak diperbolehkan adanya kesepakatan antara keduanya untuk memberikan sejumlah uang sebagai ganti rugi tanahnya ditumbuhi rantang pohon, karena itu hanya sekedar membiarkan ranting pohon tumbuh diudara, kecuali apabila akar pohon tersebut merusak temboknya.Dan jika pemilik tanah diam saja, dan membiarkan ranting tersebut tumbuh, sampai berbuah diatas tanahnya, maka yang berhak atas buah tersebut adalah pemilik pohon.
Jadi, jika memang orang yang tersebut tidak terima ranting pohon orang lain tumbuh diatas tanahnya, maka ia boleh meminta kepada pemiliknya untuk menyingkirkannya, jika pemiliknya tidak mau, ia boleh menyingkirkannya sendiri, meskipun dengan cara memotongnya. Begitu juga ia boleh meminta rugi jika keberadaan pohon tersebut merusak tembok rumah atau tembok pagar rumahnya.
Sedangkan apabila ia merelakan ranting pohon tersebut tumbuh diatas tanahnya, ia tidak berhak mengambil buah tersebut, dan apabila mengambilnya harus meminta izin dulu pada pemiliknya.
Referensi:
Asnal Matholib, Juz : 2 Hal : 227
فرع له تحويل أغصان شجرة) لغيره مالت إلى هواء ملكه الخاص أو المشترك وقد (امتنع المالك) لها (من تحويلها عن هوائه و) له (قطعها) ولو (بلا) إذن (قاض إن لم تتحول) أي لم يمكن تحويلها
Bughyatul Mustarsyidin , Hal : 291
ولو انتشرت أغصان شجرة أو عروقها إلى هواء ملك الجار أجبر صاحبها على تحويلها ، فإن لم يفعل فللجار تحويلها ثم قطعها ولو بلا إذن حاكم كما في التحفة
Hasyiyah Al Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz : 3 Hal : 13
ولا يصح الصلح على بقاء الأغصان بمال لأنه اعتياض عن مجرد الهواء فإن اعتمدت على الجدران صح الصلح عنها يابسة لا رطبة لزيادتها وانتشار العروق
Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 547
كما لو انتشرت أغصان شجرة في هواء ملكه فيجبر على إزالتها وتسوية الأرض بلا أجرة مدة التسوية لعدم تعديه ، فإن رضي
صاحب الأرض ببقائه فالغلة لمالك البذر
Tempat Imam (Mihrob) lebih tinggi dari Ma’mum
حديث سهل بن سعد : وَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَيْهِ فَكَبَّرَ وَكَبَّرَ النَّاسُ وَرَاءَهُ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ رَفَعَ فَنَزَلَ الْقَهْقَرَى حَتَّى سَجَدَ فِي أَصْلِ الْمِنْبَرِ ثُمَّ عَادَ حَتَّى فَرَغَ مِنْ آخِرِ صَلَاتِهِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوا بِي وَلِتَعَلَّمُوا صَلَاتِي [رواه البخاري (رقم 364) ومسلم (رقم 847) واللفظ له]
Hadits Sahl bin Sa’d rodhiyallohu ‘anhu,Dan sungguh aku telah melihat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berdiri di atasnya lalu beliau bertakbir dan orang-orang pun bertakbir di belakang beliau sedangkan beliau berada di atas mimbar. Kemudian beliau mengangkat kepala (yakni dari ruku’-pen) lalu mundur ke belakang sehingga beliau sujud di dasar mimbar. Kemudian beliau mengulanginya sampai selesai dari akhir sholatnya. Kemudian beliau menghadap manusia lalu bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya aku melakukan hal ini agar kalian mengikuti aku dan agar kalian memelajari tata cara sholatku.” [Riwayat Bukhori (364) dan Muslim (847) dan lafadz ini milik beliau]
قال النووي : وَفِيهِ : جَوَاز صَلَاة الْإِمَام عَلَى مَوْضِع أَعْلَى مِنْ مَوْضِع الْمَأْمُومِينَ ، وَلَكِنَّهُ يُكْرَه اِرْتِفَاع الْإِمَام عَلَى الْمَأْمُوم ، وَارْتِفَاع الْمَأْمُوم عَلَى الْإِمَام لِغَيْرِ حَاجَة ، فَإِنْ كَانَ لِحَاجَةٍ بِأَنْ أَرَادَ تَعْلِيمهمْ أَفْعَال الصَّلَاة لَمْ يُكْرَه ، بَلْ يُسْتَحَبّ لِهَذَا الْحَدِيث ، وَكَذَا إِنْ أَرَادَ الْمَأْمُوم إِعْلَام الْمَأْمُومِينَ بِصَلَاةِ الْإِمَام وَاحْتَاجَ إِلَى الِارْتِفَاع
Imam Nawawi berkata, “Dalam dalam hadits ini terdapat pelajaran bolehnya sholat seorang imam di atas suatu tempat yang lebih tinggi dari tempat sholat ma’mum. Akan tetapi dibenci lebih tingginya (tempat) imam dari ma’mumnya dan sebaliknya tanpa hajat. Jika karena suatu hajat, yaitu untuk mengajarkan mereka tata cara sholat, maka tidak dibenci bahkan disukai berdasarkan hadits ini. Begitu pula jika seorang ma’mum berniat memberi tahu ma’mum yang lain tentang sholatnya imam dan membutuhkan tempat yang tinggi.” [Syarh Shohih Muslim karya An-Nawawi, Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ish Sholat, bab Jawaazul Khuthwah wal Khuthwataini fish Sholat]yang lebih afdzol itu antara tempat imam dengan ma'mum itu sama rata tidak ada yang ditinggikan..adapun kalau tempat imam ditinggikan itu boleh kalau ada hajat tapi MAKRUH kalau tidak ada hajat
Ianatu tholibin juz 2 hal 30
ويكره إرتفاع أحدهما على الاخر بلا حاجة ولو في المسجد
Syamsul muniroh juz 1 hal 354
يكره ارتفاع المأموم على الإمام وعكسه بلا حاجة ولو فى المسجد ارتفاعا يظهر حسا وان قل حيث عده العرف ارتفاعا
Makruh hukumnya ma'mum lebih tinggi tempatnya dari imam atau sebaliknya bila tida ada hajat, meskipun di masjid dengan tinggi yang jelas secara nyata , meskipun sedikit, sekiranya 'uruf menganggap tinggiImam lebih tinggi dari Ma’mum
حديث سهل بن سعد : وَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَيْهِ فَكَبَّرَ وَكَبَّرَ النَّاسُ وَرَاءَهُ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ رَفَعَ فَنَزَلَ الْقَهْقَرَى حَتَّى سَجَدَ فِي أَصْلِ الْمِنْبَرِ ثُمَّ عَادَ حَتَّى فَرَغَ مِنْ آخِرِ صَلَاتِهِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوا بِي وَلِتَعَلَّمُوا صَلَاتِي [رواه البخاري (رقم 364) ومسلم (رقم 847) واللفظ له]
Hadits Sahl bin Sa’d rodhiyallohu ‘anhu,Dan sungguh aku telah melihat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berdiri di atasnya lalu beliau bertakbir dan orang-orang pun bertakbir di belakang beliau sedangkan beliau berada di atas mimbar. Kemudian beliau mengangkat kepala (yakni dari ruku’-pen) lalu mundur ke belakang sehingga beliau sujud di dasar mimbar. Kemudian beliau mengulanginya sampai selesai dari akhir sholatnya. Kemudian beliau menghadap manusia lalu bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya aku melakukan hal ini agar kalian mengikuti aku dan agar kalian memelajari tata cara sholatku.” [Riwayat Bukhori (364) dan Muslim (847) dan lafadz ini milik beliau]
قال النووي : وَفِيهِ : جَوَاز صَلَاة الْإِمَام عَلَى مَوْضِع أَعْلَى مِنْ مَوْضِع الْمَأْمُومِينَ ، وَلَكِنَّهُ يُكْرَه اِرْتِفَاع الْإِمَام عَلَى الْمَأْمُوم ، وَارْتِفَاع الْمَأْمُوم عَلَى الْإِمَام لِغَيْرِ حَاجَة ، فَإِنْ كَانَ لِحَاجَةٍ بِأَنْ أَرَادَ تَعْلِيمهمْ أَفْعَال الصَّلَاة لَمْ يُكْرَه ، بَلْ يُسْتَحَبّ لِهَذَا الْحَدِيث ، وَكَذَا إِنْ أَرَادَ الْمَأْمُوم إِعْلَام الْمَأْمُومِينَ بِصَلَاةِ الْإِمَام وَاحْتَاجَ إِلَى الِارْتِفَاع
Imam Nawawi berkata, “Dalam dalam hadits ini terdapat pelajaran bolehnya sholat seorang imam di atas suatu tempat yang lebih tinggi dari tempat sholat ma’mum. Akan tetapi dibenci lebih tingginya (tempat) imam dari ma’mumnya dan sebaliknya tanpa hajat. Jika karena suatu hajat, yaitu untuk mengajarkan mereka tata cara sholat, maka tidak dibenci bahkan disukai berdasarkan hadits ini. Begitu pula jika seorang ma’mum berniat memberi tahu ma’mum yang lain tentang sholatnya imam dan membutuhkan tempat yang tinggi.” [Syarh Shohih Muslim karya An-Nawawi, Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ish Sholat, bab Jawaazul Khuthwah wal Khuthwataini fish Sholat]yang lebih afdzol itu antara tempat imam dengan ma'mum itu sama rata tidak ada yang ditinggikan..adapun kalau tempat imam ditinggikan itu boleh kalau ada hajat tapi MAKRUH kalau tidak ada hajat
Ianatu tholibin juz 2 hal 30
ويكره إرتفاع أحدهما على الاخر بلا حاجة ولو في المسجد
Syamsul muniroh juz 1 hal 354
يكره ارتفاع المأموم على الإمام وعكسه بلا حاجة ولو فى المسجد ارتفاعا يظهر حسا وان قل حيث عده العرف ارتفاعا
Makruh hukumnya ma'mum lebih tinggi tempatnya dari imam atau sebaliknya bila tida ada hajat, meskipun di masjid dengan tinggi yang jelas secara nyata , meskipun sedikit, sekiranya 'uruf menganggap tinggiTEMPAT IMAM LEBIH TINGGI DARI MA'MUM
Tempat Imam (Mihrob) lebih tinggi dari Ma’mum
حديث سهل بن سعد : وَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَيْهِ فَكَبَّرَ وَكَبَّرَ النَّاسُ وَرَاءَهُ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ رَفَعَ فَنَزَلَ الْقَهْقَرَى حَتَّى سَجَدَ فِي أَصْلِ الْمِنْبَرِ ثُمَّ عَادَ حَتَّى فَرَغَ مِنْ آخِرِ صَلَاتِهِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوا بِي وَلِتَعَلَّمُوا صَلَاتِي [رواه البخاري (رقم 364) ومسلم (رقم 847) واللفظ له]
Hadits Sahl bin Sa’d rodhiyallohu ‘anhu,Dan sungguh aku telah melihat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berdiri di atasnya lalu beliau bertakbir dan orang-orang pun bertakbir di belakang beliau sedangkan beliau berada di atas mimbar. Kemudian beliau mengangkat kepala (yakni dari ruku’-pen) lalu mundur ke belakang sehingga beliau sujud di dasar mimbar. Kemudian beliau mengulanginya sampai selesai dari akhir sholatnya. Kemudian beliau menghadap manusia lalu bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya aku melakukan hal ini agar kalian mengikuti aku dan agar kalian memelajari tata cara sholatku.” [Riwayat Bukhori (364) dan Muslim (847) dan lafadz ini milik beliau]
قال النووي : وَفِيهِ : جَوَاز صَلَاة الْإِمَام عَلَى مَوْضِع أَعْلَى مِنْ مَوْضِع الْمَأْمُومِينَ ، وَلَكِنَّهُ يُكْرَه اِرْتِفَاع الْإِمَام عَلَى الْمَأْمُوم ، وَارْتِفَاع الْمَأْمُوم عَلَى الْإِمَام لِغَيْرِ حَاجَة ، فَإِنْ كَانَ لِحَاجَةٍ بِأَنْ أَرَادَ تَعْلِيمهمْ أَفْعَال الصَّلَاة لَمْ يُكْرَه ، بَلْ يُسْتَحَبّ لِهَذَا الْحَدِيث ، وَكَذَا إِنْ أَرَادَ الْمَأْمُوم إِعْلَام الْمَأْمُومِينَ بِصَلَاةِ الْإِمَام وَاحْتَاجَ إِلَى الِارْتِفَاع
Imam Nawawi berkata, “Dalam dalam hadits ini terdapat pelajaran bolehnya sholat seorang imam di atas suatu tempat yang lebih tinggi dari tempat sholat ma’mum. Akan tetapi dibenci lebih tingginya (tempat) imam dari ma’mumnya dan sebaliknya tanpa hajat. Jika karena suatu hajat, yaitu untuk mengajarkan mereka tata cara sholat, maka tidak dibenci bahkan disukai berdasarkan hadits ini. Begitu pula jika seorang ma’mum berniat memberi tahu ma’mum yang lain tentang sholatnya imam dan membutuhkan tempat yang tinggi.” [Syarh Shohih Muslim karya An-Nawawi, Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ish Sholat, bab Jawaazul Khuthwah wal Khuthwataini fish Sholat]yang lebih afdzol itu antara tempat imam dengan ma'mum itu sama rata tidak ada yang ditinggikan..adapun kalau tempat imam ditinggikan itu boleh kalau ada hajat tapi MAKRUH kalau tidak ada hajat
Ianatu tholibin juz 2 hal 30
ويكره إرتفاع أحدهما على الاخر بلا حاجة ولو في المسجد
Syamsul muniroh juz 1 hal 354
يكره ارتفاع المأموم على الإمام وعكسه بلا حاجة ولو فى المسجد ارتفاعا يظهر حسا وان قل حيث عده العرف ارتفاعا
Makruh hukumnya ma'mum lebih tinggi tempatnya dari imam atau sebaliknya bila tida ada hajat, meskipun di masjid dengan tinggi yang jelas secara nyata , meskipun sedikit, sekiranya 'uruf menganggap tinggiImam lebih tinggi dari Ma’mum
حديث سهل بن سعد : وَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَيْهِ فَكَبَّرَ وَكَبَّرَ النَّاسُ وَرَاءَهُ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ ثُمَّ رَفَعَ فَنَزَلَ الْقَهْقَرَى حَتَّى سَجَدَ فِي أَصْلِ الْمِنْبَرِ ثُمَّ عَادَ حَتَّى فَرَغَ مِنْ آخِرِ صَلَاتِهِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوا بِي وَلِتَعَلَّمُوا صَلَاتِي [رواه البخاري (رقم 364) ومسلم (رقم 847) واللفظ له]
Hadits Sahl bin Sa’d rodhiyallohu ‘anhu,Dan sungguh aku telah melihat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berdiri di atasnya lalu beliau bertakbir dan orang-orang pun bertakbir di belakang beliau sedangkan beliau berada di atas mimbar. Kemudian beliau mengangkat kepala (yakni dari ruku’-pen) lalu mundur ke belakang sehingga beliau sujud di dasar mimbar. Kemudian beliau mengulanginya sampai selesai dari akhir sholatnya. Kemudian beliau menghadap manusia lalu bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya aku melakukan hal ini agar kalian mengikuti aku dan agar kalian memelajari tata cara sholatku.” [Riwayat Bukhori (364) dan Muslim (847) dan lafadz ini milik beliau]
قال النووي : وَفِيهِ : جَوَاز صَلَاة الْإِمَام عَلَى مَوْضِع أَعْلَى مِنْ مَوْضِع الْمَأْمُومِينَ ، وَلَكِنَّهُ يُكْرَه اِرْتِفَاع الْإِمَام عَلَى الْمَأْمُوم ، وَارْتِفَاع الْمَأْمُوم عَلَى الْإِمَام لِغَيْرِ حَاجَة ، فَإِنْ كَانَ لِحَاجَةٍ بِأَنْ أَرَادَ تَعْلِيمهمْ أَفْعَال الصَّلَاة لَمْ يُكْرَه ، بَلْ يُسْتَحَبّ لِهَذَا الْحَدِيث ، وَكَذَا إِنْ أَرَادَ الْمَأْمُوم إِعْلَام الْمَأْمُومِينَ بِصَلَاةِ الْإِمَام وَاحْتَاجَ إِلَى الِارْتِفَاع
Imam Nawawi berkata, “Dalam dalam hadits ini terdapat pelajaran bolehnya sholat seorang imam di atas suatu tempat yang lebih tinggi dari tempat sholat ma’mum. Akan tetapi dibenci lebih tingginya (tempat) imam dari ma’mumnya dan sebaliknya tanpa hajat. Jika karena suatu hajat, yaitu untuk mengajarkan mereka tata cara sholat, maka tidak dibenci bahkan disukai berdasarkan hadits ini. Begitu pula jika seorang ma’mum berniat memberi tahu ma’mum yang lain tentang sholatnya imam dan membutuhkan tempat yang tinggi.” [Syarh Shohih Muslim karya An-Nawawi, Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ish Sholat, bab Jawaazul Khuthwah wal Khuthwataini fish Sholat]yang lebih afdzol itu antara tempat imam dengan ma'mum itu sama rata tidak ada yang ditinggikan..adapun kalau tempat imam ditinggikan itu boleh kalau ada hajat tapi MAKRUH kalau tidak ada hajat
Ianatu tholibin juz 2 hal 30
ويكره إرتفاع أحدهما على الاخر بلا حاجة ولو في المسجد
Syamsul muniroh juz 1 hal 354
يكره ارتفاع المأموم على الإمام وعكسه بلا حاجة ولو فى المسجد ارتفاعا يظهر حسا وان قل حيث عده العرف ارتفاعا
Makruh hukumnya ma'mum lebih tinggi tempatnya dari imam atau sebaliknya bila tida ada hajat, meskipun di masjid dengan tinggi yang jelas secara nyata , meskipun sedikit, sekiranya 'uruf menganggap tinggi
DISKRIPSI MASALAH
Ada seseorang ketika sedang sholat; mulai dari takbiratul ihrom sampai selesai selalu bergerak- gerak .
Pertanyaan:
Sahkah sholat orang tersebut. Jika tidak sah adakah pendapat yang mengesahkan hal tersebut.
Jawaban:
Jika geraknya kurang dari tiga kali hukumnya makruh ; jika gerakannya sampai tiga kali maka hukumnya batal; jika gerakannya karena penyakit /إضطرار maka tidak batal.
Referensi:Bugiyatul mustarsidin hal 55
( مسئلة ك) الاهتزاز في الصلاة وهو التمايل يمنة ويسرة مكروه مالم يكثر والا أبطل كالمضغ إلا أن يكون عن الاضطرار اهـ
Al-Bjuri juz 1 hal 178
( العمل الكثير ) المتوالي كثلاثة خطوة عمدا كان كذلك او سهوا (قوله الكثير) اي في العرف وضبط بثلاثة أفعال فاكثر ولو باعضاء متعددة كان حرك رأسه ويحسب ذهاب اليد وعودها مرة واحدة مالم يسكن بينهما
FIQIH: ORANG YANG SELALU BERGERAK DALAM SHALAT
DISKRIPSI MASALAH
Ada seseorang ketika sedang sholat; mulai dari takbiratul ihrom sampai selesai selalu bergerak- gerak .
Pertanyaan:
Sahkah sholat orang tersebut. Jika tidak sah adakah pendapat yang mengesahkan hal tersebut.
Jawaban:
Jika geraknya kurang dari tiga kali hukumnya makruh ; jika gerakannya sampai tiga kali maka hukumnya batal; jika gerakannya karena penyakit /إضطرار maka tidak batal.
Referensi:Bugiyatul mustarsidin hal 55
( مسئلة ك) الاهتزاز في الصلاة وهو التمايل يمنة ويسرة مكروه مالم يكثر والا أبطل كالمضغ إلا أن يكون عن الاضطرار اهـ
Al-Bjuri juz 1 hal 178
( العمل الكثير ) المتوالي كثلاثة خطوة عمدا كان كذلك او سهوا (قوله الكثير) اي في العرف وضبط بثلاثة أفعال فاكثر ولو باعضاء متعددة كان حرك رأسه ويحسب ذهاب اليد وعودها مرة واحدة مالم يسكن بينهما

Kenapa Surat At-Taubah Ga Pake Bismillah? Dan Kenapa Ada Basmalah di Surat An-Naml ayat 30. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Pasti ada sesuatu apa sih temen2 ada yang tahu ga? kasih tau dong bukan tempe loh.
Jawaban:
Kalau baca ta'awwudz mengawali pembacaan suroh tersebut maka diperbolehkan, sedang kalau baca BASMALAH itu terjadi perbedaan pendapat diantara Ulama tentang hukum membaca BASMALAH pada awal surat "BAROO-AH" (surat attaubah)
Hawasyi syarwani juz 2 hal 36

Kenapa Surat At-Taubah Ga Pake Bismillah? Dan Kenapa Ada Basmalah di Surat An-Naml ayat 30. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Pasti ada sesuatu apa sih temen2 ada yang tahu ga? kasih tau dong bukan tempe loh.
Jawaban:
Kalau baca ta'awwudz mengawali pembacaan suroh tersebut maka diperbolehkan, sedang kalau baca BASMALAH itu terjadi perbedaan pendapat diantara Ulama tentang hukum membaca BASMALAH pada awal surat "BAROO-AH" (surat attaubah)
Hawasyi syarwani juz 2 hal 36
قوله: (ومن ثم حرمت الخ) عليه منع ظاهر وفي الجعبري ما يدل على خلافه فراجعه سم عبارة ع ش قوله م ر: سورة براءة أي فلو أتى بها في أولها كان مكروها خلافا لحج حيث قال بالحرمة اه عبارة شيخنا فتكره البسملة في أولها وتسن في أثنائها كما قاله الرملي، وقيل: تحرم في أولها وتكره في أثنائها كما قاله ابن حج
Menurut Imam ROMLI hukum membaca BASMALAH pada awal surat baraooah adalah MAKRUH sedang menurut Imam Ibnu Hajar membaca basmalah diawal surat hukumnya haram, sedang di tengah surat hukumnya makruh.
kenapa dalam surat Al-baro'ah tidak diperkenan kan membaca basmalah ketika membaca awal surat? kalau dalam tafsir Qurtubi itu diterangkan bahwa basmalah imengandung kadih sayang sedangkan dlm surat Al-baro'ah menerangkan tentang masalah peperangan jd tidak diperkenan kan membaca basmalah
واختلف العلماء في سبب سقوط البسملة منها على أقوال
منها: أن البسملة رحمة وأمان و"براءة" نزلت بالسيف؛ فليس فيها أمان، وهذا القول مروي عن علي رضي الله عنه، وسفيان بن عيينة
Pertanyaan :
Terus buat basmalah yang di an-naml kenapa tuh ada hubungannya ga dengan surat at-taubah? yah kali aja ada sesuatu? إِنَّهُ مِن سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
Jawaban :
Tidak ada perbedaan diantara para ulama bahwa بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ adalah Al Quran Firman Allah Ta’alaTidak ada perbedaan diantara para ulama bahwa بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ adalah bagian ayat di dalam Al Quran surat An Naml ayat 30. Dalil yang menunjukkan akan hal ini, Allah Ta’ala berfirman:
{ إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} [النمل: 30]
Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” QS. An Naml: 30.Tidak ada perbedaan diantara para ulama bahwa بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ adalah bukan ayat dari surat TaubahTidak ada perbedaan diantara para ulama bahwa بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ adalah ayat yang telah dinukilkan penulisannya di dalam mushaf secara mutawatirTidak ada perbedaan diantara para ulama bahwa بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ adalah ayat yang telah dituliskan antara dua surat di dalam Al Quran selain antara surat Al Anfal dan At taubah.
{ إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} [النمل: 30]
Ahkamul Qur'an juz 1 hal 2
قَوْله تَعَالَى : { بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } . اتَّفَقَ النَّاسُ عَلَى أَنَّهَا آيَةٌ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى فِي سُورَةِ النَّمْلِ
Firman Allah Ta’ala: { بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } manusia bersepakat bahwa ia adalah satu ayat dari Kitabullah Ta’ala di dalam Surat An Naml
At-tahbir syarah At-Tahrir maktabas syamilah
والبسملة بعض آية في سورةالنمل إجماعا ، فهي قرآ ن قطعا ، وليست في أول براءة إجماعا...وأما حكم البسملة في غير ذلك ، فالصحيح الذي عليه أكثر العلماء ، منهم : الإمام أحمد والإمام أبو حنيفة والإمام الشافعي : أنها قرآن.
Dan ucapan بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ sebagian ayat di dalam surat An Naml secara Ijma’, maka ia adalah Al Quran secara pasti dan bukan awal surat dari awal surat Bara’ah (at Taubah) secara ijma’…dan adapun hukum بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ dalam selain itu, maka pendapat yang benar yang disebutkan oleh kebanyakan para ulama, diantara mereka Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah dan Imam Asy Syafi’ie Bahwa ia adalah Al Quran.
Tafsiran dalam tafsir ibnu katsir ayat diatas (surat An-Naml ayat 30) itu menjelaskan bahwa basmalah itu pertama kali turun kepada nabi Ibrohim alaihis salam
===================================
Tafsir Ibnu katsir maktabas syamilah
{إنه من سليمان وإنه بسم الله الرحمن الرحيم * ألا تعلوا علي وأتوني مسلمين} فعرفوا أنه من نبي الله سليمان عليه السلام, وأنه لا قبل لهم به, وهذا الكتاب في غاية البلاغة والوجازة والفصاحة, فإنه حصل المعنى بأيسر عبارة وأحسنها. قال العلماء: لم يكتب أحد بسم الله الرحمن الرحيم قبل سليمان عليه السلام. وقد روى ابن أبي حاتم في ذلك حديثاً في تفسيره حيث قال: حدثنا أبي, حدثنا هارون بن الفضل أبو يعلى الخياط. حدثنا أبو يوسف عن سلمة بن صالح عن عبد الكريم أبي أمية عن ابن بريدة عن أبيه قال: كنت أمشي مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: «إني أعلم آية لم تنزل على نبي قبلي بعد سليمان بن داود
Dalam listen Arabic bahwa basmalah dalam surat An-Naml ayat 30 adalah salah satu ciri kemulyaan nya nabi ibrohim
السادسة : قوله تعالى : " إنه من سليمان وإنه بسم الله الرحمن الرحيم " ( وإنه ) بالكسر فيهما أي وإن الكلام ، أو إن مبتدأ الكلام " بسم الله الرحمن الرحيم " . وأجاز الفراء أنه من سليمان وأنه بفتحهما جميعاً على أن يكونا في موضع رفع بدل من الكتاب ، بمعنى ألقى إلى أنه من سليمان . وأجاز أن يكونا في موضع نصب على حذف الخافض ، أي لأنه من سليمان ولأنه ، كأنها عللت كرمه بكونه من سليمان وتصديره بسم الله
Dalam Multaqo ahli tafsir maktabas syamilah tafsiran surat An-Naml ayat 30 adalah bahwa basmalah disana adalah satu ayat yang pertama ditulis dalam kitabnya nabi ibrohim dan dijadikan rahmat untuk manusia umum
===================================
Tafsir Multaqo ahli tafsir maktabas syamilah
﴿ إنه من سليمان وإنه باسم الله الرحمن الرحيم ألا تعلوا عليّ وأتوني مسلمين ﴾ النمل 30 ـ 31 أن سليمان رسول الله إلى الناس وأن كتابه هذا هو من رسالته إليهم وهم أعم من بني إسرائيل فزيادة التكليف بقدر زيادة التمكين كما بينت في فقه المرحلية ، ويأتي لاحقا سبب ابتداء فاتحة الكتاب كالسور بـ ﴿ باسم الله الرحمن الرحيم ﴾ وسبب إيراد اسم الرحمة فيها وفي كتاب سليمان وإنما يتم المعنى في ما تقدم باسم الله إذ هو من تكليف الله عباده فهو مما يقدرون عليه ويستطيعونه ويسع كلا الطاعة والعصيان
BASMALAH PADA SURAT AN-NAML DAN SURAT AT-TAUBAH

Kenapa Surat At-Taubah Ga Pake Bismillah? Dan Kenapa Ada Basmalah di Surat An-Naml ayat 30. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Pasti ada sesuatu apa sih temen2 ada yang tahu ga? kasih tau dong bukan tempe loh.
Jawaban:
Kalau baca ta'awwudz mengawali pembacaan suroh tersebut maka diperbolehkan, sedang kalau baca BASMALAH itu terjadi perbedaan pendapat diantara Ulama tentang hukum membaca BASMALAH pada awal surat "BAROO-AH" (surat attaubah)
Hawasyi syarwani juz 2 hal 36

Kenapa Surat At-Taubah Ga Pake Bismillah? Dan Kenapa Ada Basmalah di Surat An-Naml ayat 30. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Pasti ada sesuatu apa sih temen2 ada yang tahu ga? kasih tau dong bukan tempe loh.
Jawaban:
Kalau baca ta'awwudz mengawali pembacaan suroh tersebut maka diperbolehkan, sedang kalau baca BASMALAH itu terjadi perbedaan pendapat diantara Ulama tentang hukum membaca BASMALAH pada awal surat "BAROO-AH" (surat attaubah)
Hawasyi syarwani juz 2 hal 36
قوله: (ومن ثم حرمت الخ) عليه منع ظاهر وفي الجعبري ما يدل على خلافه فراجعه سم عبارة ع ش قوله م ر: سورة براءة أي فلو أتى بها في أولها كان مكروها خلافا لحج حيث قال بالحرمة اه عبارة شيخنا فتكره البسملة في أولها وتسن في أثنائها كما قاله الرملي، وقيل: تحرم في أولها وتكره في أثنائها كما قاله ابن حج
Menurut Imam ROMLI hukum membaca BASMALAH pada awal surat baraooah adalah MAKRUH sedang menurut Imam Ibnu Hajar membaca basmalah diawal surat hukumnya haram, sedang di tengah surat hukumnya makruh.
kenapa dalam surat Al-baro'ah tidak diperkenan kan membaca basmalah ketika membaca awal surat? kalau dalam tafsir Qurtubi itu diterangkan bahwa basmalah imengandung kadih sayang sedangkan dlm surat Al-baro'ah menerangkan tentang masalah peperangan jd tidak diperkenan kan membaca basmalah
واختلف العلماء في سبب سقوط البسملة منها على أقوال
منها: أن البسملة رحمة وأمان و"براءة" نزلت بالسيف؛ فليس فيها أمان، وهذا القول مروي عن علي رضي الله عنه، وسفيان بن عيينة
Pertanyaan :
Terus buat basmalah yang di an-naml kenapa tuh ada hubungannya ga dengan surat at-taubah? yah kali aja ada sesuatu? إِنَّهُ مِن سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
Jawaban :
Tidak ada perbedaan diantara para ulama bahwa بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ adalah Al Quran Firman Allah Ta’alaTidak ada perbedaan diantara para ulama bahwa بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ adalah bagian ayat di dalam Al Quran surat An Naml ayat 30. Dalil yang menunjukkan akan hal ini, Allah Ta’ala berfirman:
{ إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} [النمل: 30]
Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” QS. An Naml: 30.Tidak ada perbedaan diantara para ulama bahwa بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ adalah bukan ayat dari surat TaubahTidak ada perbedaan diantara para ulama bahwa بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ adalah ayat yang telah dinukilkan penulisannya di dalam mushaf secara mutawatirTidak ada perbedaan diantara para ulama bahwa بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ adalah ayat yang telah dituliskan antara dua surat di dalam Al Quran selain antara surat Al Anfal dan At taubah.
{ إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} [النمل: 30]
Ahkamul Qur'an juz 1 hal 2
قَوْله تَعَالَى : { بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } . اتَّفَقَ النَّاسُ عَلَى أَنَّهَا آيَةٌ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى فِي سُورَةِ النَّمْلِ
Firman Allah Ta’ala: { بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } manusia bersepakat bahwa ia adalah satu ayat dari Kitabullah Ta’ala di dalam Surat An Naml
At-tahbir syarah At-Tahrir maktabas syamilah
والبسملة بعض آية في سورةالنمل إجماعا ، فهي قرآ ن قطعا ، وليست في أول براءة إجماعا...وأما حكم البسملة في غير ذلك ، فالصحيح الذي عليه أكثر العلماء ، منهم : الإمام أحمد والإمام أبو حنيفة والإمام الشافعي : أنها قرآن.
Dan ucapan بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ sebagian ayat di dalam surat An Naml secara Ijma’, maka ia adalah Al Quran secara pasti dan bukan awal surat dari awal surat Bara’ah (at Taubah) secara ijma’…dan adapun hukum بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ dalam selain itu, maka pendapat yang benar yang disebutkan oleh kebanyakan para ulama, diantara mereka Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah dan Imam Asy Syafi’ie Bahwa ia adalah Al Quran.
Tafsiran dalam tafsir ibnu katsir ayat diatas (surat An-Naml ayat 30) itu menjelaskan bahwa basmalah itu pertama kali turun kepada nabi Ibrohim alaihis salam
===================================
Tafsir Ibnu katsir maktabas syamilah
{إنه من سليمان وإنه بسم الله الرحمن الرحيم * ألا تعلوا علي وأتوني مسلمين} فعرفوا أنه من نبي الله سليمان عليه السلام, وأنه لا قبل لهم به, وهذا الكتاب في غاية البلاغة والوجازة والفصاحة, فإنه حصل المعنى بأيسر عبارة وأحسنها. قال العلماء: لم يكتب أحد بسم الله الرحمن الرحيم قبل سليمان عليه السلام. وقد روى ابن أبي حاتم في ذلك حديثاً في تفسيره حيث قال: حدثنا أبي, حدثنا هارون بن الفضل أبو يعلى الخياط. حدثنا أبو يوسف عن سلمة بن صالح عن عبد الكريم أبي أمية عن ابن بريدة عن أبيه قال: كنت أمشي مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: «إني أعلم آية لم تنزل على نبي قبلي بعد سليمان بن داود
Dalam listen Arabic bahwa basmalah dalam surat An-Naml ayat 30 adalah salah satu ciri kemulyaan nya nabi ibrohim
السادسة : قوله تعالى : " إنه من سليمان وإنه بسم الله الرحمن الرحيم " ( وإنه ) بالكسر فيهما أي وإن الكلام ، أو إن مبتدأ الكلام " بسم الله الرحمن الرحيم " . وأجاز الفراء أنه من سليمان وأنه بفتحهما جميعاً على أن يكونا في موضع رفع بدل من الكتاب ، بمعنى ألقى إلى أنه من سليمان . وأجاز أن يكونا في موضع نصب على حذف الخافض ، أي لأنه من سليمان ولأنه ، كأنها عللت كرمه بكونه من سليمان وتصديره بسم الله
Dalam Multaqo ahli tafsir maktabas syamilah tafsiran surat An-Naml ayat 30 adalah bahwa basmalah disana adalah satu ayat yang pertama ditulis dalam kitabnya nabi ibrohim dan dijadikan rahmat untuk manusia umum
===================================
Tafsir Multaqo ahli tafsir maktabas syamilah
﴿ إنه من سليمان وإنه باسم الله الرحمن الرحيم ألا تعلوا عليّ وأتوني مسلمين ﴾ النمل 30 ـ 31 أن سليمان رسول الله إلى الناس وأن كتابه هذا هو من رسالته إليهم وهم أعم من بني إسرائيل فزيادة التكليف بقدر زيادة التمكين كما بينت في فقه المرحلية ، ويأتي لاحقا سبب ابتداء فاتحة الكتاب كالسور بـ ﴿ باسم الله الرحمن الرحيم ﴾ وسبب إيراد اسم الرحمة فيها وفي كتاب سليمان وإنما يتم المعنى في ما تقدم باسم الله إذ هو من تكليف الله عباده فهو مما يقدرون عليه ويستطيعونه ويسع كلا الطاعة والعصيان
Hikmahnya magrib dan isya' di dikeraskan krn untuk mncari klezatan munajatnya hamba pd TUHANnya klo dzuhur ashar di pelankan krn siang wktu kesibukan dan bercampurnya para manusia krn tidak pantas untuk mngheningkan diri pd munajatnya,,sedangkan shubuh disamakn sholat malam {magrib dan isya'} krn bukan waktu kesibukan.
Ianatut tholibin juz 1 hal 153.
قوله يسن الجهر ) أي ولو خاف الرياء قال ع ش والحكمة في الجهر في موضعه أنه لما كان الليل محل الخلوة ويطيب فيه السمر شرع الجهر فيه طلبا للذة مناجاة العبد لربه وخص بالأوليين لنشاط المصلي فيهما والنهار لما كان محل الشواغل والاختلاط بالناس طلب فيه الإسرار لعدم صلاحيته للتفرغ للمناجاة وألحق الصبح بالصلاة الليلية لأن وقته ليس محلا للشواغل
HIKMAH BACAAN KERAS DAN PELAN DIWAKTU-WAKTU SHALAT
حِكْمَةُ الْجَهْرِ فِي مَوْضِعِهِ وَالْإِسْرَارُ فِي مَوْضِعِهِ أَنَّهُ لَمَّا كَانَ اللَّيْلُ مَحَلَّ الْخَلْوَةِ وَيَطِيبُ فِيهِ السَّمَرُ شُرِعَ الْجَهْرُ فِيهِ إظْهَارًا لِلَّذَّةِ مُنَاجَاةِ الْعَبْدِ لِرَبِّهِ وَخُصَّ بِالْأُولَيَيْنِ لِنَشَاطِ الْمُصَلِّي فِيهِمَا وَالنَّهَارُ لَمَّا كَانَ مَحَلَّ الشَّوَاغِلِ وَالِاخْتِلَاطِ بِالنَّاسِ طُلِبَ الْإِسْرَارُ لِعَدَمِ صَلَاحِيَتِهِ لِلتَّفَرُّغِ لِلْمُنَاجَاةِ وَأَلْحَقَ الصُّبْحَ بِالصَّلَاةِ اللَّيْلِيَّةِ ؛ لِأَنَّ وَقْتَهُ لَيْسَ مَحَلًّا لِلشَّوَاغِلِ عَادَةً ا هـ ع ش عَلَى م ر .
Hikmah membaca keras dan pelan pada waktu shalat yaitu waktu malam adalah waktu menyendiri, waktu yang tepat untuk bercakap-cakap karenanya syariat menetapkan bacaan keras saat shalat diwaktu tersebut untuk menampakkan nikmatnya munajat seorang hamba dihadapan Tuhannya. Dan diperlakukan pada shalat maghrib serta Isya’ karena terdapat kesemangatan orang yang menjalani shalat pada waktu keduanya.Sedang waktu siang adalah waktu bekerja dan bercampur dengan orang banyak, disyaritakan membaca dengan pelan karena disiang hari tidak layak untuk menuangkan munajat pada Allah.Dan waktu shalat shubuh disamakan dengan shalat malam (maghrib serta Isya’) karena pada umumnya diwaktu inipun orang belum tersibukkan dengan aneka pekerjaan.
Hasyiyah al-Jamal III/326
والحكمة في طلب الجهر في صلاة الليل والإسرار في صلاة النهار أن صلاة الليل تقع في الأوقات المظلمة فينبه القارئ بجهره المارة، وللأمن من لغو الكافر عند سماع القرآن لاشتغاله غالبًا في الليل بالنوم أو غيره بخلاف النهار، وإنما طلب الجهر في الجمعة والعيدين لحضور أهل البوادي والقرى فأمر القارئ بالجهر ليسمعوه فيحصل لهم الاتعاظ بسماعه.
Hikmah diperlakukannya mengeraskan bacaan dishalat malam (maghrib, isya’ dan shubuh) serta diperlakukannya melirihkan bacaan dishlat waktu siang (dhuhur dan ashar) adalah sesungguhnya shalat malam terjadi disaan waktu-waktu gelap maka dengan suara kerasnya orang yang membaca al-Quran diharapkan dapat mengingatkan orang-orang yang lewat disamping waktu malam adalah waktu yang aman dari kesia-siaan orang kafir saat mendengar bacaan al-Quran sebab mereka pada umumnya sedang beristirahat atau sibuk dengan hal lainnya berbeda dengan waktu siang hari.Dan diperlakukan mengeraskan bacaan dishalat jumah dan hari raya karena kehadiran orang-orang pedalaman, pedesaan untuk menjalankan shalat berjamah maka diperintahkan mengeraskan bacaan agar mereka dapat mengambil wejangan saat mendengar bacaan al-Quran.
Al-Fawakih ad-Dawaany I/505
Hikmahnya bacaan sholat pada malam hari (magrib, isya, subuh) disariatkan dibaca keras, karena malam adalah waktu sepi, sebagai penampakan kenikmatan munajat hamba pada Robbnya. sebaliknya bacaan siang dipelankan, karena siang adalah waktu sibuk antar manusia, sehingga dipelankan karena waktu ini tidak sesuai pada kefokusan munajat.
:حِكْمَةُ الْجَهْرِ فِي مَوْضِعِهِ وَالْإِسْرَارُ فِي مَوْضِعِهِ أَنَّهُ لَمَّا كَانَ اللَّيْلُ مَحَلَّ الْخَلْوَةِ وَيَطِيبُ فِيهِ السَّمَرُ شُرِعَ الْجَهْرُ فِيهِ إظْهَارًا لِلَّذَّةِ مُنَاجَاةِ الْعَبْدِ لِرَبِّهِ وَخُصَّ بِالْأُولَيَيْنِ لِنَشَاطِ الْمُصَلِّي فِيهِمَا وَالنَّهَارُ لَمَّا كَانَ مَحَلَّ الشَّوَاغِلِ وَالِاخْتِلَاطِ بِالنَّاسِ طُلِبَ الْإِسْرَارُ لِعَدَمِ صَلَاحِيَتِهِ لِلتَّفَرُّغِ لِلْمُنَاجَاةِ وَأَلْحَقَ الصُّبْحَ بِالصَّلَاةِ اللَّيْلِيَّةِ؛ لِأَنَّ وَقْتَهُ لَيْسَ مَحَلًّا لِلشَّوَاغِلِ عَادَةً اهـ ع ش عَلَى م ر.
(Hasyiyah Al-Jamal)RAHASIA DIBALIK BACAAN KERAS DAN PELAN DALAM SHALAT
Hikmahnya magrib dan isya' di dikeraskan krn untuk mncari klezatan munajatnya hamba pd TUHANnya klo dzuhur ashar di pelankan krn siang wktu kesibukan dan bercampurnya para manusia krn tidak pantas untuk mngheningkan diri pd munajatnya,,sedangkan shubuh disamakn sholat malam {magrib dan isya'} krn bukan waktu kesibukan.
Ianatut tholibin juz 1 hal 153.
قوله يسن الجهر ) أي ولو خاف الرياء قال ع ش والحكمة في الجهر في موضعه أنه لما كان الليل محل الخلوة ويطيب فيه السمر شرع الجهر فيه طلبا للذة مناجاة العبد لربه وخص بالأوليين لنشاط المصلي فيهما والنهار لما كان محل الشواغل والاختلاط بالناس طلب فيه الإسرار لعدم صلاحيته للتفرغ للمناجاة وألحق الصبح بالصلاة الليلية لأن وقته ليس محلا للشواغل
HIKMAH BACAAN KERAS DAN PELAN DIWAKTU-WAKTU SHALAT
حِكْمَةُ الْجَهْرِ فِي مَوْضِعِهِ وَالْإِسْرَارُ فِي مَوْضِعِهِ أَنَّهُ لَمَّا كَانَ اللَّيْلُ مَحَلَّ الْخَلْوَةِ وَيَطِيبُ فِيهِ السَّمَرُ شُرِعَ الْجَهْرُ فِيهِ إظْهَارًا لِلَّذَّةِ مُنَاجَاةِ الْعَبْدِ لِرَبِّهِ وَخُصَّ بِالْأُولَيَيْنِ لِنَشَاطِ الْمُصَلِّي فِيهِمَا وَالنَّهَارُ لَمَّا كَانَ مَحَلَّ الشَّوَاغِلِ وَالِاخْتِلَاطِ بِالنَّاسِ طُلِبَ الْإِسْرَارُ لِعَدَمِ صَلَاحِيَتِهِ لِلتَّفَرُّغِ لِلْمُنَاجَاةِ وَأَلْحَقَ الصُّبْحَ بِالصَّلَاةِ اللَّيْلِيَّةِ ؛ لِأَنَّ وَقْتَهُ لَيْسَ مَحَلًّا لِلشَّوَاغِلِ عَادَةً ا هـ ع ش عَلَى م ر .
Hikmah membaca keras dan pelan pada waktu shalat yaitu waktu malam adalah waktu menyendiri, waktu yang tepat untuk bercakap-cakap karenanya syariat menetapkan bacaan keras saat shalat diwaktu tersebut untuk menampakkan nikmatnya munajat seorang hamba dihadapan Tuhannya. Dan diperlakukan pada shalat maghrib serta Isya’ karena terdapat kesemangatan orang yang menjalani shalat pada waktu keduanya.Sedang waktu siang adalah waktu bekerja dan bercampur dengan orang banyak, disyaritakan membaca dengan pelan karena disiang hari tidak layak untuk menuangkan munajat pada Allah.Dan waktu shalat shubuh disamakan dengan shalat malam (maghrib serta Isya’) karena pada umumnya diwaktu inipun orang belum tersibukkan dengan aneka pekerjaan.
Hasyiyah al-Jamal III/326
والحكمة في طلب الجهر في صلاة الليل والإسرار في صلاة النهار أن صلاة الليل تقع في الأوقات المظلمة فينبه القارئ بجهره المارة، وللأمن من لغو الكافر عند سماع القرآن لاشتغاله غالبًا في الليل بالنوم أو غيره بخلاف النهار، وإنما طلب الجهر في الجمعة والعيدين لحضور أهل البوادي والقرى فأمر القارئ بالجهر ليسمعوه فيحصل لهم الاتعاظ بسماعه.
Hikmah diperlakukannya mengeraskan bacaan dishalat malam (maghrib, isya’ dan shubuh) serta diperlakukannya melirihkan bacaan dishlat waktu siang (dhuhur dan ashar) adalah sesungguhnya shalat malam terjadi disaan waktu-waktu gelap maka dengan suara kerasnya orang yang membaca al-Quran diharapkan dapat mengingatkan orang-orang yang lewat disamping waktu malam adalah waktu yang aman dari kesia-siaan orang kafir saat mendengar bacaan al-Quran sebab mereka pada umumnya sedang beristirahat atau sibuk dengan hal lainnya berbeda dengan waktu siang hari.Dan diperlakukan mengeraskan bacaan dishalat jumah dan hari raya karena kehadiran orang-orang pedalaman, pedesaan untuk menjalankan shalat berjamah maka diperintahkan mengeraskan bacaan agar mereka dapat mengambil wejangan saat mendengar bacaan al-Quran.
Al-Fawakih ad-Dawaany I/505
Hikmahnya bacaan sholat pada malam hari (magrib, isya, subuh) disariatkan dibaca keras, karena malam adalah waktu sepi, sebagai penampakan kenikmatan munajat hamba pada Robbnya. sebaliknya bacaan siang dipelankan, karena siang adalah waktu sibuk antar manusia, sehingga dipelankan karena waktu ini tidak sesuai pada kefokusan munajat.
:حِكْمَةُ الْجَهْرِ فِي مَوْضِعِهِ وَالْإِسْرَارُ فِي مَوْضِعِهِ أَنَّهُ لَمَّا كَانَ اللَّيْلُ مَحَلَّ الْخَلْوَةِ وَيَطِيبُ فِيهِ السَّمَرُ شُرِعَ الْجَهْرُ فِيهِ إظْهَارًا لِلَّذَّةِ مُنَاجَاةِ الْعَبْدِ لِرَبِّهِ وَخُصَّ بِالْأُولَيَيْنِ لِنَشَاطِ الْمُصَلِّي فِيهِمَا وَالنَّهَارُ لَمَّا كَانَ مَحَلَّ الشَّوَاغِلِ وَالِاخْتِلَاطِ بِالنَّاسِ طُلِبَ الْإِسْرَارُ لِعَدَمِ صَلَاحِيَتِهِ لِلتَّفَرُّغِ لِلْمُنَاجَاةِ وَأَلْحَقَ الصُّبْحَ بِالصَّلَاةِ اللَّيْلِيَّةِ؛ لِأَنَّ وَقْتَهُ لَيْسَ مَحَلًّا لِلشَّوَاغِلِ عَادَةً اهـ ع ش عَلَى م ر.
(Hasyiyah Al-Jamal)
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأََشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ
Bismillah janteun wiwitan, hamdalah janteun muqodimah tawis rasa syukur urang sadayana atas limpahan ni'mat ti pangeran.
Puji anu janteun panghias hati urang sanggakeun ka Allah Robbul Izzati
Puja anu janteun panghias rasa urang sanggakeun ka Allah Azza wa Jalla
Syukur anu janteun mimiti catur urang panjatkeun ka Allah anu maha ghofur, Allah teh ibu mikaresep kajalmi anu rajin syukur, mikangewa kajalmi anu tukang kufur, Allah oge anu nyiptakeun jelema timimiti orang kota nepikeun ka urang lembur. sok sanaos pak Mansyut tukang bubur nyi Enur anu gede bujur..pasti sadayana oge bakal lebet ka alam kubur. Atuh ku kituna sim abdi seja mitutur dina dina acara ieu tasyakur, mudahah-mudahan sadayana sing tiasa akur sinareng pituturna para Rasul..Aamiiin Ya Allah Ya Robbal A'lamiiiin
Salajengna dulur ilmu lir cakrana dada panampakan batining hening rasa katineng parantos eunteup dina manah bagja kuanjangan datang, atuh kukituna urang rabut kapuhu urang papay ka akar urang nyucruk jalur pitutur sepuh kapungkur urang mapay-mapay lacak tapak langkahna kolot baheula para alimil ulama, sok sanaos bari kaayaan paduka Rasulullah parantos tuus pupus parantos laas wafat, akan tetapi pusaka sinareng titinggalna Al-Qur'an miwah Hadistna anu ngajanteunkeun pituduh rahayuning hirup manusa ana tara daekeun kapicengceum jadi lembek kajeduk ka kewang ewuh kakoncara kajana pria kajamparing ka angin- angin, malah mandar sohor kabogor, reang kakarawang, uyur-uyur sacianjur nepikeun ka lembur-lembur, eyar-eyar sajakarta nepikeun ka desa-desa malah mandar jadi sabiwir hiji. Atuh kukituna Rahmat miwah salamna urang sanjungken ka mustikaning alam anu janteun nabi akhiruz zaman anu bakal nyafaatan kasetiak insan anu beriman, hiji nabi anu depe-depe, handap asor, daekan, lekeunan, daek nulung kanu bingung daek nalang kanu susah, ngahudangkeun kanu labuh, ngajait kanu titeuleum, mere kanu butuh, nyaangan kanu poekeun.
Hiji Nabi anu pinuh ku pengaweruh, jembar kupanalar, masagi ku pangarti anu hirupna pinuh kurasa mandiri..Habibana..wanabiyana..wamaulana Muhammad saw. teu kakantun kapara keluargina, para sahabatna, para tabi'in sareng tabiatna, nyakitu deui kapara umatna anu nyucruk jalur kana ajaran manteunna, anu mudah-mudahan urang sadayana ngahasilkeun kana syafaa'tul udzmana engkin diyaumil qiyamah..Aamiiin
MUQODIMAH CERAMAH SUNDA
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأََشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ
Bismillah janteun wiwitan, hamdalah janteun muqodimah tawis rasa syukur urang sadayana atas limpahan ni'mat ti pangeran.
Puji anu janteun panghias hati urang sanggakeun ka Allah Robbul Izzati
Puja anu janteun panghias rasa urang sanggakeun ka Allah Azza wa Jalla
Syukur anu janteun mimiti catur urang panjatkeun ka Allah anu maha ghofur, Allah teh ibu mikaresep kajalmi anu rajin syukur, mikangewa kajalmi anu tukang kufur, Allah oge anu nyiptakeun jelema timimiti orang kota nepikeun ka urang lembur. sok sanaos pak Mansyut tukang bubur nyi Enur anu gede bujur..pasti sadayana oge bakal lebet ka alam kubur. Atuh ku kituna sim abdi seja mitutur dina dina acara ieu tasyakur, mudahah-mudahan sadayana sing tiasa akur sinareng pituturna para Rasul..Aamiiin Ya Allah Ya Robbal A'lamiiiin
Salajengna dulur ilmu lir cakrana dada panampakan batining hening rasa katineng parantos eunteup dina manah bagja kuanjangan datang, atuh kukituna urang rabut kapuhu urang papay ka akar urang nyucruk jalur pitutur sepuh kapungkur urang mapay-mapay lacak tapak langkahna kolot baheula para alimil ulama, sok sanaos bari kaayaan paduka Rasulullah parantos tuus pupus parantos laas wafat, akan tetapi pusaka sinareng titinggalna Al-Qur'an miwah Hadistna anu ngajanteunkeun pituduh rahayuning hirup manusa ana tara daekeun kapicengceum jadi lembek kajeduk ka kewang ewuh kakoncara kajana pria kajamparing ka angin- angin, malah mandar sohor kabogor, reang kakarawang, uyur-uyur sacianjur nepikeun ka lembur-lembur, eyar-eyar sajakarta nepikeun ka desa-desa malah mandar jadi sabiwir hiji. Atuh kukituna Rahmat miwah salamna urang sanjungken ka mustikaning alam anu janteun nabi akhiruz zaman anu bakal nyafaatan kasetiak insan anu beriman, hiji nabi anu depe-depe, handap asor, daekan, lekeunan, daek nulung kanu bingung daek nalang kanu susah, ngahudangkeun kanu labuh, ngajait kanu titeuleum, mere kanu butuh, nyaangan kanu poekeun.
Hiji Nabi anu pinuh ku pengaweruh, jembar kupanalar, masagi ku pangarti anu hirupna pinuh kurasa mandiri..Habibana..wanabiyana..wamaulana Muhammad saw. teu kakantun kapara keluargina, para sahabatna, para tabi'in sareng tabiatna, nyakitu deui kapara umatna anu nyucruk jalur kana ajaran manteunna, anu mudah-mudahan urang sadayana ngahasilkeun kana syafaa'tul udzmana engkin diyaumil qiyamah..Aamiiin
Beberapa riwayat hadits menunjukkan bahwa Rasulullah juga memberikan nama pada beberapa hewan yang beliau miliki, diantaranya adalah sebagai berikut;
كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاقَةٌ تُسَمَّى العَضْبَاءَ
"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memiliki unta yang dinamakan dengan Al 'Adhbaa'” (Shahih Bukhari, no.2872)
كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَائِطِنَا فَرَسٌ يُقَالُ لَهُ اللُّحَيْفُ
"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memiliki kuda yang berada di kebun kami yang diberi nama Al Luhaif" (Dhahih Bukhari, no.2855)
Begitu juga yang dilakukan oleh sahabat-sahabat Nabi, mereka juga biasa memberikan nama untuk hewan tunggangannya,
عَنْ قَتَادَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسًا، يَقُولُ: كَانَ فَزَعٌ بِالْمَدِينَةِ، فَاسْتَعَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَسًا مِنْ أَبِي طَلْحَةَ يُقَالُ لَهُ المَنْدُوبُ
“Dari Qatadah berkata, aku mendengar Anas berkata: "Di Madinah terjadi kegaduhan, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meminjam kuda milik Abu Thalhah yang bernama Al Mandub” (Shahih Bukhari, no.2627)
Berdasarkan hadits-hadits tersebut para ulama’ mengambil dalil kebolehan memberikan nama pada hewan, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Muhallab, Imam Al-Baghowi dan Imam Al-Munawi.
Kesimpulannya, memberikan nama bagi hewan itu hukumnya boleh, namun hendaknya tidak menggunakan nama-nama yang dimuliakan dalam agama Islam, seperti nama-nama Allah, nama-nama para Nabi dan yang lainnya. Wallahu a’lam.
Syarah Al Bukhari Li Ibnu Al Batthol, Juz : 5 Hal : 59 - 60
كان للرسول (صلى الله عليه وسلم) فى حائطنا فرس، يقال له: اللحيف. 1711 / وفيه: أبو قتادة، أنه خرج مع الرسول، (صلى الله عليه وسلم) ، فتخلف أبو قتادة، فركب فرسا يقال له: الجرادة. . . الحديث. 1712 / وفيه: معاذ بن جبل، كنت رديف النبى، (صلى الله عليه وسلم) ، على حمار، يقال له: عفير، فقال: (يا معاذ، هل تدرى حق الله على عباده) ؟ الحديث. 1713 / وفيه: أنس، كان فزع بالمدينة، فاستعار الرسول (صلى الله عليه وسلم) فرسا يقال له: المندوب، فقال: (ما رأينا من فزع، وإن وجدناه لبحرا) . قال البخارى: قال بعضهم: اللخيف بالخاء. قال المهلب: فقه هذا الباب جواز تسمية الدواب بأسماء تخصها غير أسماء جنسها
Syarah As Sunnah Li Al Baghowi, Juz : 8 Hal : 221
أخبرنا عبد الواحد بن أحمد المليحي، أنا أحمد بن عبد الله النعيمي، أخبرنا محمد بن يوسف، نا محمد بن إسماعيل، أنا آدم، نا شعبة، عن قتادة، قال: سمعت أنسا، يقول: " كان فزع بالمدينة فاستعار النبي صلى الله عليه وسلم فرسا من أبي طلحة، يقال له: المندوب فركب، فلما رجع، قال: ما رأينا من شيء، وإن وجدناه لبحرا ". - إلى أن قال- وفيه إباحة تسمية الدواب
Faidlul Qodir, Juz : 5 Hal : 173
كان فرسه يقال له المرتجز) قال ابن القيم: وكان أشهب (وناقته القصواء) بضم القاف والمد قيل هي التي تسمى العضباء وقيل غيرها (وبغلته الدلدل) بضم فسكون ثم مثله سميت به لأنها تضطرب في مشيها من شدة الجري يقال دلدل في الأرض ذهب ومر يدلدل ويتدلدل في مشيه يضطرب ذكره ابن الأثير (وحماره عفير) فيه مشروعية تسمية الفرس والبغل والحمار وكذا غيرها من الدواب بأسماء تخصها غير أسماء أجناسها
MEMBERI NAMA PADA HEWAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Beberapa riwayat hadits menunjukkan bahwa Rasulullah juga memberikan nama pada beberapa hewan yang beliau miliki, diantaranya adalah sebagai berikut;
كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاقَةٌ تُسَمَّى العَضْبَاءَ
"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memiliki unta yang dinamakan dengan Al 'Adhbaa'” (Shahih Bukhari, no.2872)
كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَائِطِنَا فَرَسٌ يُقَالُ لَهُ اللُّحَيْفُ
"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memiliki kuda yang berada di kebun kami yang diberi nama Al Luhaif" (Dhahih Bukhari, no.2855)
Begitu juga yang dilakukan oleh sahabat-sahabat Nabi, mereka juga biasa memberikan nama untuk hewan tunggangannya,
عَنْ قَتَادَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسًا، يَقُولُ: كَانَ فَزَعٌ بِالْمَدِينَةِ، فَاسْتَعَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَسًا مِنْ أَبِي طَلْحَةَ يُقَالُ لَهُ المَنْدُوبُ
“Dari Qatadah berkata, aku mendengar Anas berkata: "Di Madinah terjadi kegaduhan, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meminjam kuda milik Abu Thalhah yang bernama Al Mandub” (Shahih Bukhari, no.2627)
Berdasarkan hadits-hadits tersebut para ulama’ mengambil dalil kebolehan memberikan nama pada hewan, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Muhallab, Imam Al-Baghowi dan Imam Al-Munawi.
Kesimpulannya, memberikan nama bagi hewan itu hukumnya boleh, namun hendaknya tidak menggunakan nama-nama yang dimuliakan dalam agama Islam, seperti nama-nama Allah, nama-nama para Nabi dan yang lainnya. Wallahu a’lam.
Syarah Al Bukhari Li Ibnu Al Batthol, Juz : 5 Hal : 59 - 60
كان للرسول (صلى الله عليه وسلم) فى حائطنا فرس، يقال له: اللحيف. 1711 / وفيه: أبو قتادة، أنه خرج مع الرسول، (صلى الله عليه وسلم) ، فتخلف أبو قتادة، فركب فرسا يقال له: الجرادة. . . الحديث. 1712 / وفيه: معاذ بن جبل، كنت رديف النبى، (صلى الله عليه وسلم) ، على حمار، يقال له: عفير، فقال: (يا معاذ، هل تدرى حق الله على عباده) ؟ الحديث. 1713 / وفيه: أنس، كان فزع بالمدينة، فاستعار الرسول (صلى الله عليه وسلم) فرسا يقال له: المندوب، فقال: (ما رأينا من فزع، وإن وجدناه لبحرا) . قال البخارى: قال بعضهم: اللخيف بالخاء. قال المهلب: فقه هذا الباب جواز تسمية الدواب بأسماء تخصها غير أسماء جنسها
Syarah As Sunnah Li Al Baghowi, Juz : 8 Hal : 221
أخبرنا عبد الواحد بن أحمد المليحي، أنا أحمد بن عبد الله النعيمي، أخبرنا محمد بن يوسف، نا محمد بن إسماعيل، أنا آدم، نا شعبة، عن قتادة، قال: سمعت أنسا، يقول: " كان فزع بالمدينة فاستعار النبي صلى الله عليه وسلم فرسا من أبي طلحة، يقال له: المندوب فركب، فلما رجع، قال: ما رأينا من شيء، وإن وجدناه لبحرا ". - إلى أن قال- وفيه إباحة تسمية الدواب
Faidlul Qodir, Juz : 5 Hal : 173
كان فرسه يقال له المرتجز) قال ابن القيم: وكان أشهب (وناقته القصواء) بضم القاف والمد قيل هي التي تسمى العضباء وقيل غيرها (وبغلته الدلدل) بضم فسكون ثم مثله سميت به لأنها تضطرب في مشيها من شدة الجري يقال دلدل في الأرض ذهب ومر يدلدل ويتدلدل في مشيه يضطرب ذكره ابن الأثير (وحماره عفير) فيه مشروعية تسمية الفرس والبغل والحمار وكذا غيرها من الدواب بأسماء تخصها غير أسماء أجناسها
Salah satu dari syarat sahnya sholat adalah menutup aurot, sedangkan batasan aurot bagi wanita adalah semua badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Dalilnya adalah sabda Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam ;
لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ حَائِضٍ إِلَّا بِخِمَارٍ
"Alloh tidak menerima sholat wanita yang sudah haidh tanpa memakai khimar (kerudung)" (Sunan Abu Dawud, no.641, Sunan Ibnu Majah, no.655, Shohih Ibnu Hibban, no.1711, Musnad Ahmad, no.25167, 25833, 25834, 26226)
Sedangkan batasan dari wajah adalah mulai daritempat tumbuhnya rambut sampai dengan dagu dan ujung janggut. Dari batasan ini jelas bahwa dagu termasuk dalam batasan wajah yang dibuka saat sholat, namun bagian bawah dagu termasuk bagian yang wajib ditutupi, karena itulah untuk menutupi bagian bawah dagu secara sempurna mukena yang dipakai juga harus menutupi bagian ujung dari dagu. Jadi apabila bagian bawah dagu terbuka saat sholat maka sholatnya batal kecuali apabila ditutup seketika, dan tak ada bedanya antara terbukanya aurot entah itu hanya sedikit atau banyak sholatnya dihukumi tidak sah.
Pendapat yang menyatakan bahwa terbukanya aurot sedikit saja dalam sholat itu membatalkan sholat adalah pendapat madzhab Syafi'i. Sedangkan menurut madzhab Hanafi terbukanya aurot apabila tak melebihi seperempat bagian tubuh tidak membatalkan sholat, sedangkan menurut madzhab Hanbali terbukanya aurot jika hanya sedikit tidak membatalkan sholat, dan menurut pendapat sebagian ulama' madzhab Maliki menutupi aurot bukanlah syarat dari sholat sehingga apabila aurotnya terbuka sholatnya tetap sah.
Oleh karena itu Syekh Isma'il Bin Zen dalam fatwanya mengenai masalah ini menyatakan bahwa apabila hal ini dilakukan oleh wanita - wanita awam yang tak tahu caranya mengikuti salah satu madzhab (taqlid) maka sholatnya dihukumi sah sebab orang awam itu tidak memiliki madzhab (al-'ami la madzhaba lah).
Kesimpulannya menurut madzhab Syafi'i sholatnya wanita yang terbuka bagian bawah dagunya dihukumi batal, dan apabila hal ini dilakukan oleh orang - orang yang masih awam sholatnya dihukumi sah, namun tentunya kalau bisa ditunjukkan cara menutupi aurot yang benar. Wallohu a'lam.
Fathul Qorib, hal : 72 – 73
فصل : (وشرائط الصلاة قبل الدخول فيها خمسة أشياء): - إلى أن قال - (و) الثاني (ستر) لون (العورة) عند القدرة ولو كان الشخص خاليا أو في ظلمة. فإن عجز عن سترها صلى عاريا، ولا يومئ بالركوع والسجود، بل يتمهما، ولا إعادة عليه. ويكون ستر العورة (بلباس طاهر). ويجب سترها أيضا في غير الصلاة عن الناس وفي الخلوة إلا لحاجة من اغتسال ونحوه. وأما سترها عن نفسه فلا يجب لكنه يكره نظره إليها. وعورة الذكر ما بين سرته وركبته، وكذا الأمة؛ وعورة الحرة في الصلاة ما سوى وجهها وكفيها ظهرا وبطنا إلى الكوعين
Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz : 1 Hal : 371
قال المصنف رحمه الله : ثم يغسل وجهه وذلك فرض لقوله تعالى (فاغسلوا وجوهكم) والوجه ما بين منابت شعر الرأس إلى الذقن ومنتهى اللحيين طولا ومن الاذن إلى الاذن عرضا والاعتبار بالمنابت المعتادة لا بمن تصلع الشعر عن ناصيته ولا بمن نزل إلى جبهته وفي موضع التحذيف وجهان قال أبو العباس هو من الوجه لانهم أنزلوه من الوجه وقال أبو إسحق هو من الرأس لان الله تعالى خلقه من الرأس فلا يصير وجها بفعل الناس
الشرح : غسل الوجه واجب في الوضوء بالكتاب والسنن المتظاهرة والإجماع وهذا الذي ذكره المصنف في حد الوجه هو الصواب الذي عليه الأصحاب ونص عليه الشافعي رحمه الله في الأم وذكر المزني في المختصر في حده كلاما طويلا مختلا أنكره عليه الأصحاب ونقل إمام الحرمين عن الأصحاب في حده عبارة حسنة فقال قال الأصحاب حده طولا ما بين منحدر تدوير الرأس أو من مبتدإ تسطيح الجبهة إلى منتهى ما يقبل من الذقن ومن الأذن إلى الأذن عرضا
Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz : 3 Hal : 166 - 167
قال المصنف رحمه الله : يجب ستر العورة للصلاة لما روي عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال " لا يقبل الله صلاة حائض إلا بخمار " فان انكشف شئ من العورة مع القدرة لم تصح صلاته
الشرح : هذا الحديث رواه أبو داود والترمذي وقال حديث حسن ورواه الحاكم في المستدرك وقال حديث صحيح على شرط مسلم والمراد بالحائض التي بلغت سميت حائضا لأنها بلغت سن الحيض هذا هو الصواب في العبارة عنها ويقع في كثير من كتب شروح الحديث وكتب الفقه أن المراد بالحائض التي بلغت سن المحيض وهذا تساهل لأنها قد تبلغ سن المحيض ولا تبلغ البلوغ الشرعي ثم إن التقييد بالحائض خرج على الغالب وهو أن التى دون البلوغ لا ثصلى والا فلا يقبل صلاة الصبية المميزة إلا بخمار: واعلم أن الحديث مخصوص بالحرة وإلا فالأمة تصح صلاتها مكشوفة الرأس: أما حكم المسألة فستر العورة شرط لصحة الصلاة فان انكشف شئ من عورة المصلي لم تصح صلاته سواء أكثر المنكشف أم قل وكان أدنى جزء وسواء في هذا الرجل والمرأة وسواء المصلي في حضرة الناس والمصلي في الخلوة وسواء صلاة النفل والفرض والجنازة والطواف وسجود التلاوة والشكر ولو صلى في سترة ثم بعد الفراغ علم أنه كان فيها خرق تبين منه العورة وجبت إعادة الصلاة على المذهب سواء كان علمه ثم نسيه أم لم يكن علمه وفيه الخلاف السابق فيمن صلى بنجاسة جهلها أو نسيها فإن احتمل حدوث الخرق بعد الفراغ من الصلاة فلا إعادة عليه بلا خلاف كما سبق في نظيره من النجاسة في آخر باب طهارة البد
فرع : في مذاهب العلماء في ستر العورة في الصلاة: قد ذكرنا أنه شرط عندنا وبه قال داود وقال أبو حنيفة إن ظهر ربع العضو صحت صلاته وإن زاد لم تصح وإن ظهر من السوأتين قدر درهم بطلت صلاته وإن كان أقل لم تبطل وقال أبو يوسف إن ظهر نصف العضو صحت صلاته
وإن زاد لم تصح وقال بعض أصحاب مالك ستر العورة واجب وليس بشرط فإن صلى مكشوفها صحت صلاته سواء تعمد أو سها وقال أكثر المالكية السترة شرط مع الذكر والقدرة عليها فإن عجز أو نسي الستر صحت صلاته وهذا هو الصحيح عندهم وقال أحمد إن ظهر شئ يسير صحت صلاته سواء العورة المخففة والمغلظة: دليلنا أنه ثبت وجوب التسر بحديث عائشة ولا فرق بين الرجل والمرأة بالاتفاق وإذا ثبت الستر اقتضى جميع العورة فلا يقبل تخصيص البعض إلا بدليل ظاهر
Qurrotul A'in Bi Fatawi Isma'il Bin Az-Zain, Hal : 52-53
انكشاف ما تحت الذقن من المرأة في الصلاة
سؤال : بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله الموفق للصواب والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى اله والأصحاب وعلى التابعين لهم بإحسان إلى يوم الماب
أما بعد : فقد قدم إلي بعض الإخوان سؤالا, هذا نصه : قد قرروا أن عورة الحرة في الصلاة جميع بدنها ما سوى الوجه والكفين, ومعلوم أن حد الوجه طولا ما بين منابت الشعر إلى اللحيين وعرضا من الأذن إلى الأذن. وقد وقع كثيرا انكشاف ما تحت الذقن من بدن المرأة حال صلاتها وطوافها, فهل تعذر في ذلك لكونه من أسفل أم يضر ذلك ؟ أفتونا رحمكم الله فالمسألة واقعة حال
فاقول وبالله التوفيق : أن انكشاف ما تحت الذهن من بدن المرأة في حال الصلاة والطواف يضر فيكون مبطلا للصلاة وللطواف, وذلك لأنه داخل في عموم كلامهم فيما يجب ستره. فقولهم عورة الحرة في الصلاة جميع بدنها الا الوجه والكفين يفيد ذلك لأمور : منها الإستثناء فإنه معيار العموم, ومنها قولهم يجب عليها أن تستر جزأ من الوجه من جميع الجوانب ليتحقق به كمال الستر لما عداه فظهر بذلك ان كشف ذلك يضر ويعتبر مبطلا للصلاة ومثلها الطواف, هذا مذهب سادتنا الشافعية
وأما عند غيرهم كالسادة الحنفية والسادة المالكية فان ما تحت الذقن ونحوه لا يعد كشفه من المرأة مبطلا للصلاة كما يعلم ذلك من عبارات كتب مذاهبهم. وحينئذ لو وقع ذلك من العاميات اللاتي لم يعرفن كيفية التقليد بمذهب الشافعية فان صلاتهن صحيحة لأن العامي لا مذهب له وحتن من العارفات بمذهب الشافعي إذا أردن تقليد غير الشافعي ممن يرى ذلك فأن صلاتهن تكون صحيحة لأن أهل المذاهب الأربعة كلهم على هدى. فجزاهم الله عنا خير الجزاء. وبذلك يعلم أن هذه المسألة وقع السؤال عنها هي موضع خلاف بين أئمة المذاهب وليست من المجمع عليه والحمد لله جعل في الأمر سعة
SAHKAH SHALATNYA WANITA YANG KELIHATAN DAGUNYA?
Salah satu dari syarat sahnya sholat adalah menutup aurot, sedangkan batasan aurot bagi wanita adalah semua badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Dalilnya adalah sabda Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam ;
لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ حَائِضٍ إِلَّا بِخِمَارٍ
"Alloh tidak menerima sholat wanita yang sudah haidh tanpa memakai khimar (kerudung)" (Sunan Abu Dawud, no.641, Sunan Ibnu Majah, no.655, Shohih Ibnu Hibban, no.1711, Musnad Ahmad, no.25167, 25833, 25834, 26226)
Sedangkan batasan dari wajah adalah mulai daritempat tumbuhnya rambut sampai dengan dagu dan ujung janggut. Dari batasan ini jelas bahwa dagu termasuk dalam batasan wajah yang dibuka saat sholat, namun bagian bawah dagu termasuk bagian yang wajib ditutupi, karena itulah untuk menutupi bagian bawah dagu secara sempurna mukena yang dipakai juga harus menutupi bagian ujung dari dagu. Jadi apabila bagian bawah dagu terbuka saat sholat maka sholatnya batal kecuali apabila ditutup seketika, dan tak ada bedanya antara terbukanya aurot entah itu hanya sedikit atau banyak sholatnya dihukumi tidak sah.
Pendapat yang menyatakan bahwa terbukanya aurot sedikit saja dalam sholat itu membatalkan sholat adalah pendapat madzhab Syafi'i. Sedangkan menurut madzhab Hanafi terbukanya aurot apabila tak melebihi seperempat bagian tubuh tidak membatalkan sholat, sedangkan menurut madzhab Hanbali terbukanya aurot jika hanya sedikit tidak membatalkan sholat, dan menurut pendapat sebagian ulama' madzhab Maliki menutupi aurot bukanlah syarat dari sholat sehingga apabila aurotnya terbuka sholatnya tetap sah.
Oleh karena itu Syekh Isma'il Bin Zen dalam fatwanya mengenai masalah ini menyatakan bahwa apabila hal ini dilakukan oleh wanita - wanita awam yang tak tahu caranya mengikuti salah satu madzhab (taqlid) maka sholatnya dihukumi sah sebab orang awam itu tidak memiliki madzhab (al-'ami la madzhaba lah).
Kesimpulannya menurut madzhab Syafi'i sholatnya wanita yang terbuka bagian bawah dagunya dihukumi batal, dan apabila hal ini dilakukan oleh orang - orang yang masih awam sholatnya dihukumi sah, namun tentunya kalau bisa ditunjukkan cara menutupi aurot yang benar. Wallohu a'lam.
Fathul Qorib, hal : 72 – 73
فصل : (وشرائط الصلاة قبل الدخول فيها خمسة أشياء): - إلى أن قال - (و) الثاني (ستر) لون (العورة) عند القدرة ولو كان الشخص خاليا أو في ظلمة. فإن عجز عن سترها صلى عاريا، ولا يومئ بالركوع والسجود، بل يتمهما، ولا إعادة عليه. ويكون ستر العورة (بلباس طاهر). ويجب سترها أيضا في غير الصلاة عن الناس وفي الخلوة إلا لحاجة من اغتسال ونحوه. وأما سترها عن نفسه فلا يجب لكنه يكره نظره إليها. وعورة الذكر ما بين سرته وركبته، وكذا الأمة؛ وعورة الحرة في الصلاة ما سوى وجهها وكفيها ظهرا وبطنا إلى الكوعين
Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz : 1 Hal : 371
قال المصنف رحمه الله : ثم يغسل وجهه وذلك فرض لقوله تعالى (فاغسلوا وجوهكم) والوجه ما بين منابت شعر الرأس إلى الذقن ومنتهى اللحيين طولا ومن الاذن إلى الاذن عرضا والاعتبار بالمنابت المعتادة لا بمن تصلع الشعر عن ناصيته ولا بمن نزل إلى جبهته وفي موضع التحذيف وجهان قال أبو العباس هو من الوجه لانهم أنزلوه من الوجه وقال أبو إسحق هو من الرأس لان الله تعالى خلقه من الرأس فلا يصير وجها بفعل الناس
الشرح : غسل الوجه واجب في الوضوء بالكتاب والسنن المتظاهرة والإجماع وهذا الذي ذكره المصنف في حد الوجه هو الصواب الذي عليه الأصحاب ونص عليه الشافعي رحمه الله في الأم وذكر المزني في المختصر في حده كلاما طويلا مختلا أنكره عليه الأصحاب ونقل إمام الحرمين عن الأصحاب في حده عبارة حسنة فقال قال الأصحاب حده طولا ما بين منحدر تدوير الرأس أو من مبتدإ تسطيح الجبهة إلى منتهى ما يقبل من الذقن ومن الأذن إلى الأذن عرضا
Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz : 3 Hal : 166 - 167
قال المصنف رحمه الله : يجب ستر العورة للصلاة لما روي عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال " لا يقبل الله صلاة حائض إلا بخمار " فان انكشف شئ من العورة مع القدرة لم تصح صلاته
الشرح : هذا الحديث رواه أبو داود والترمذي وقال حديث حسن ورواه الحاكم في المستدرك وقال حديث صحيح على شرط مسلم والمراد بالحائض التي بلغت سميت حائضا لأنها بلغت سن الحيض هذا هو الصواب في العبارة عنها ويقع في كثير من كتب شروح الحديث وكتب الفقه أن المراد بالحائض التي بلغت سن المحيض وهذا تساهل لأنها قد تبلغ سن المحيض ولا تبلغ البلوغ الشرعي ثم إن التقييد بالحائض خرج على الغالب وهو أن التى دون البلوغ لا ثصلى والا فلا يقبل صلاة الصبية المميزة إلا بخمار: واعلم أن الحديث مخصوص بالحرة وإلا فالأمة تصح صلاتها مكشوفة الرأس: أما حكم المسألة فستر العورة شرط لصحة الصلاة فان انكشف شئ من عورة المصلي لم تصح صلاته سواء أكثر المنكشف أم قل وكان أدنى جزء وسواء في هذا الرجل والمرأة وسواء المصلي في حضرة الناس والمصلي في الخلوة وسواء صلاة النفل والفرض والجنازة والطواف وسجود التلاوة والشكر ولو صلى في سترة ثم بعد الفراغ علم أنه كان فيها خرق تبين منه العورة وجبت إعادة الصلاة على المذهب سواء كان علمه ثم نسيه أم لم يكن علمه وفيه الخلاف السابق فيمن صلى بنجاسة جهلها أو نسيها فإن احتمل حدوث الخرق بعد الفراغ من الصلاة فلا إعادة عليه بلا خلاف كما سبق في نظيره من النجاسة في آخر باب طهارة البد
فرع : في مذاهب العلماء في ستر العورة في الصلاة: قد ذكرنا أنه شرط عندنا وبه قال داود وقال أبو حنيفة إن ظهر ربع العضو صحت صلاته وإن زاد لم تصح وإن ظهر من السوأتين قدر درهم بطلت صلاته وإن كان أقل لم تبطل وقال أبو يوسف إن ظهر نصف العضو صحت صلاته
وإن زاد لم تصح وقال بعض أصحاب مالك ستر العورة واجب وليس بشرط فإن صلى مكشوفها صحت صلاته سواء تعمد أو سها وقال أكثر المالكية السترة شرط مع الذكر والقدرة عليها فإن عجز أو نسي الستر صحت صلاته وهذا هو الصحيح عندهم وقال أحمد إن ظهر شئ يسير صحت صلاته سواء العورة المخففة والمغلظة: دليلنا أنه ثبت وجوب التسر بحديث عائشة ولا فرق بين الرجل والمرأة بالاتفاق وإذا ثبت الستر اقتضى جميع العورة فلا يقبل تخصيص البعض إلا بدليل ظاهر
Qurrotul A'in Bi Fatawi Isma'il Bin Az-Zain, Hal : 52-53
انكشاف ما تحت الذقن من المرأة في الصلاة
سؤال : بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله الموفق للصواب والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى اله والأصحاب وعلى التابعين لهم بإحسان إلى يوم الماب
أما بعد : فقد قدم إلي بعض الإخوان سؤالا, هذا نصه : قد قرروا أن عورة الحرة في الصلاة جميع بدنها ما سوى الوجه والكفين, ومعلوم أن حد الوجه طولا ما بين منابت الشعر إلى اللحيين وعرضا من الأذن إلى الأذن. وقد وقع كثيرا انكشاف ما تحت الذقن من بدن المرأة حال صلاتها وطوافها, فهل تعذر في ذلك لكونه من أسفل أم يضر ذلك ؟ أفتونا رحمكم الله فالمسألة واقعة حال
فاقول وبالله التوفيق : أن انكشاف ما تحت الذهن من بدن المرأة في حال الصلاة والطواف يضر فيكون مبطلا للصلاة وللطواف, وذلك لأنه داخل في عموم كلامهم فيما يجب ستره. فقولهم عورة الحرة في الصلاة جميع بدنها الا الوجه والكفين يفيد ذلك لأمور : منها الإستثناء فإنه معيار العموم, ومنها قولهم يجب عليها أن تستر جزأ من الوجه من جميع الجوانب ليتحقق به كمال الستر لما عداه فظهر بذلك ان كشف ذلك يضر ويعتبر مبطلا للصلاة ومثلها الطواف, هذا مذهب سادتنا الشافعية
وأما عند غيرهم كالسادة الحنفية والسادة المالكية فان ما تحت الذقن ونحوه لا يعد كشفه من المرأة مبطلا للصلاة كما يعلم ذلك من عبارات كتب مذاهبهم. وحينئذ لو وقع ذلك من العاميات اللاتي لم يعرفن كيفية التقليد بمذهب الشافعية فان صلاتهن صحيحة لأن العامي لا مذهب له وحتن من العارفات بمذهب الشافعي إذا أردن تقليد غير الشافعي ممن يرى ذلك فأن صلاتهن تكون صحيحة لأن أهل المذاهب الأربعة كلهم على هدى. فجزاهم الله عنا خير الجزاء. وبذلك يعلم أن هذه المسألة وقع السؤال عنها هي موضع خلاف بين أئمة المذاهب وليست من المجمع عليه والحمد لله جعل في الأمر سعة
DIBOLEHKAN menaburkan bunga-bunga segar yang masih basah di atas kuburan2 ,‘karena hal ini(menaburi bunga) dapat meringankan siksaan mayat akibat bacaan tasbih tanaman/bunga diatas pusara tersebut.
I’aanah at-Thoolibiin : II/120.
Berdasarkan hadist nabi yg berbunyi ;
"Ingatlah,sesungguhnya dua mayat ini sedang disiksa tetapi bukan kerana melakukan dosa besar. Seorang dari padanya disiksa kerana dahulu dia suka membuat fitnah dan seorang lagi disiksa kerana tidak menghindari diri daripada percikan air kencing. Kemudian baginda mengambil pelepah kurma yang masih basah lalu dibelahnya menjadi dua. Setelah itu baginda menanam salah satunya pada kubur yang pertama dan yang satu lagi pada kubur yang kedua sambil bersabda: Semoga pelepah ini dapat meringankan seksanya selagi ia belum kering." (H.R.buchori&muslim).
" Para Ulama menngqiyaskan pelepah kurma dalam hadits di atas dengan segala macam tumbuh-tumbuhan yang masih basah sebagaimana yang di jelaskan dalam kitab ;
Mughni Al Muhtaj ; 1/364.
ويسن أيضا وضع الجريد الأخضر على القبر وكذا الريحان ونحوه من الشيء الرطب.
(الكتاب مغنى المحتاج ج 1 ص 365)
Intinya sunnah menaruh pelapah kurma yang hijau diatas kuburan dan bau2 yang harum sperti bunga2 yg masih basah
Ketika berziarah, rasanya tidak lengkap jika seorang peziarah yang berziarah tidak membawa air bunga ke tempat pemakaman, yang mana air tersebut akan diletakkan pada pusara. Hal ini adalah kebiasaan yang sudah merata di seluruh masyarakat. Bagaimanakah hukumnya? Apakah manfaat dari perbuatan tersebut?
Para ulama mengatakan bahwa hukum menyiram air bunga atau harum-haruman di atas kuburan adalah sunnah. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi al-Bantani dalam Nihayah al-Zain, hal. 145
وَيُنْدَبُ رَشُّ الْقَبْرِ بِمَاءٍ باَرِدٍ تَفاَؤُلاً بِبُرُوْدَةِ الْمَضْجِعِ وَلاَ بَأْسَ بِقَلِيْلٍ مِنْ مَّاءِ الْوَرْدِ ِلأَنَّ الْمَلاَ ئِكَةَ تُحِبُّ الرَّائِحَةَ الطِّيْب
Disunnahkan untuk menyirami kuburan dengan air yang dingin. Perbuatan ini dilakukan sebagai pengharapan dengan dinginnya tempat kembali (kuburan) dan juga tidak apa-apa menyiram kuburan dengan air mawar meskipun sedikit, karena malaikat senang pada aroma yang harum.
(Nihayah al-Zain, hal. 154)
Pendapat ini berdasarkan hadits Nabi
حَدثَناَ يَحْيَ : حَدَثَناَ أَبُوْ مُعَاوِيَةَ عَنِ الأعمش عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ طاووس عن ابن عباس رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ يُعَذِّباَنِ فَقاَلَ: إِنَّهُمَا لَـيُعَذِّباَنِ وَماَ يُعَذِّباَنِ فِيْ كَبِيْرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِِ وَأَمَّا اْلآخَرُ فَكَانَ يَمْشِيْ باِلنَّمِيْمَةِ . ثُمَّ أَخُذِ جَرِيْدَةً رَطْبَةً فَشْقِهَا بِنَصْفَيْنِ، ثُمَّ غُرِزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةٍ، فَقَالُوْا: ياَ رَسُوْلَ اللهِ لِمَ صَنَعْتَ هٰذَا ؟ فقاَلَ: ( لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَالَمْ يَيْـبِسَا
Dari Ibnu Umar ia berkata; Suatu ketika Nabi melewati sebuah kebun di Makkah dan Madinah lalu Nabi mendengar suara dua orang yang sedang disiksa di dalam kuburnya. Nabi bersabda kepada para sahabat “Kedua orang (yang ada dalam kubur ini) sedang disiksa. Yang satu disiksa karena tidak memakai penutup ketika kencing sedang yang lainnya lagi karena sering mengadu domba”. Kemudian Rasulullah menyuruh sahabat untuk mengambil pelepah kurma, kemudian membelahnya menjadi dua bagian dan meletakkannya pada masing-masing kuburan tersebut. Para sahabat lalu bertanya, kenapa engkau melakukan hal ini ya Rasul?. Rasulullah menjawab: Semoga Allah meringankan siksa kedua orang tersebut selama dua pelepah kurma ini belum kering
(Sahih al-Bukhari 1361)Lebih ditegaskan lagi dalam I’anah al-Thalibin
يُسَنُّ وَضْعُ جَرِيْدَةٍ خَضْرَاءَ عَلَى الْقَبْرِ لِلْإ تِّباَعِ وَلِأَنَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُ بِبَرَكَةِ تَسْبِيْحِهَا وَقيِْسَ بِهَا مَا اعْتِيْدَ مِنْ طَرْحِ نَحْوِ الرَّيْحَانِ الرَّطْبِ
Disunnahkan meletakkan pelepah kurma yang masih hijau di atas kuburan, karena hal ini adalah sunnah Nabi Muhammad Saw. dan dapat meringankan beban si mayat karena barokahnya bacaan tasbihnya bunga yang ditaburkan dan hal ini disamakan dengan sebagaimana adat kebiasaan, yaitu menaburi bunga yang harum dan basah atau yang masih segar.
(I’anah al-Thalibin, juz II, hal. 119)Dan ditegaskan juga dalam Nihayah al-Zain, hal. 163
وَيُنْدَبُ وَضْعُ الشَّيْءِ الرَّطْبِ كَالْجَرِيْدِ الْأَحْضَرِ وَالرَّيْحَانِ، لِأَنَّهُ يَسْتَغْفِرُ لِلْمَيِّتِ مَا دَامَ رَطْباً وَلَا يَجُوْزُ لِلْغَيْرِ أَخْذُهُ قَبْلَ يَبِسِهِ. (نهاية الزين 163
________________________________
Berdasarkan penjelasan di atas, maka memberi harum-haruman di pusara kuburan itu dibenarkan termasuk pula menyiram air bunga di atas pusara, karena hal tersebut termasuk ajaran Nabi (sunnah) yang memberikan manfaat bagi si mayi
"Wallohu A'lam Bis shawab"
HUKUM MENABUR BUNGA DIKUBURAN
DIBOLEHKAN menaburkan bunga-bunga segar yang masih basah di atas kuburan2 ,‘karena hal ini(menaburi bunga) dapat meringankan siksaan mayat akibat bacaan tasbih tanaman/bunga diatas pusara tersebut.
I’aanah at-Thoolibiin : II/120.
Berdasarkan hadist nabi yg berbunyi ;
"Ingatlah,sesungguhnya dua mayat ini sedang disiksa tetapi bukan kerana melakukan dosa besar. Seorang dari padanya disiksa kerana dahulu dia suka membuat fitnah dan seorang lagi disiksa kerana tidak menghindari diri daripada percikan air kencing. Kemudian baginda mengambil pelepah kurma yang masih basah lalu dibelahnya menjadi dua. Setelah itu baginda menanam salah satunya pada kubur yang pertama dan yang satu lagi pada kubur yang kedua sambil bersabda: Semoga pelepah ini dapat meringankan seksanya selagi ia belum kering." (H.R.buchori&muslim).
" Para Ulama menngqiyaskan pelepah kurma dalam hadits di atas dengan segala macam tumbuh-tumbuhan yang masih basah sebagaimana yang di jelaskan dalam kitab ;
Mughni Al Muhtaj ; 1/364.
ويسن أيضا وضع الجريد الأخضر على القبر وكذا الريحان ونحوه من الشيء الرطب.
(الكتاب مغنى المحتاج ج 1 ص 365)
Intinya sunnah menaruh pelapah kurma yang hijau diatas kuburan dan bau2 yang harum sperti bunga2 yg masih basah
Ketika berziarah, rasanya tidak lengkap jika seorang peziarah yang berziarah tidak membawa air bunga ke tempat pemakaman, yang mana air tersebut akan diletakkan pada pusara. Hal ini adalah kebiasaan yang sudah merata di seluruh masyarakat. Bagaimanakah hukumnya? Apakah manfaat dari perbuatan tersebut?
Para ulama mengatakan bahwa hukum menyiram air bunga atau harum-haruman di atas kuburan adalah sunnah. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi al-Bantani dalam Nihayah al-Zain, hal. 145
وَيُنْدَبُ رَشُّ الْقَبْرِ بِمَاءٍ باَرِدٍ تَفاَؤُلاً بِبُرُوْدَةِ الْمَضْجِعِ وَلاَ بَأْسَ بِقَلِيْلٍ مِنْ مَّاءِ الْوَرْدِ ِلأَنَّ الْمَلاَ ئِكَةَ تُحِبُّ الرَّائِحَةَ الطِّيْب
Disunnahkan untuk menyirami kuburan dengan air yang dingin. Perbuatan ini dilakukan sebagai pengharapan dengan dinginnya tempat kembali (kuburan) dan juga tidak apa-apa menyiram kuburan dengan air mawar meskipun sedikit, karena malaikat senang pada aroma yang harum.
(Nihayah al-Zain, hal. 154)
Pendapat ini berdasarkan hadits Nabi
حَدثَناَ يَحْيَ : حَدَثَناَ أَبُوْ مُعَاوِيَةَ عَنِ الأعمش عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ طاووس عن ابن عباس رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ يُعَذِّباَنِ فَقاَلَ: إِنَّهُمَا لَـيُعَذِّباَنِ وَماَ يُعَذِّباَنِ فِيْ كَبِيْرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِِ وَأَمَّا اْلآخَرُ فَكَانَ يَمْشِيْ باِلنَّمِيْمَةِ . ثُمَّ أَخُذِ جَرِيْدَةً رَطْبَةً فَشْقِهَا بِنَصْفَيْنِ، ثُمَّ غُرِزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةٍ، فَقَالُوْا: ياَ رَسُوْلَ اللهِ لِمَ صَنَعْتَ هٰذَا ؟ فقاَلَ: ( لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَالَمْ يَيْـبِسَا
Dari Ibnu Umar ia berkata; Suatu ketika Nabi melewati sebuah kebun di Makkah dan Madinah lalu Nabi mendengar suara dua orang yang sedang disiksa di dalam kuburnya. Nabi bersabda kepada para sahabat “Kedua orang (yang ada dalam kubur ini) sedang disiksa. Yang satu disiksa karena tidak memakai penutup ketika kencing sedang yang lainnya lagi karena sering mengadu domba”. Kemudian Rasulullah menyuruh sahabat untuk mengambil pelepah kurma, kemudian membelahnya menjadi dua bagian dan meletakkannya pada masing-masing kuburan tersebut. Para sahabat lalu bertanya, kenapa engkau melakukan hal ini ya Rasul?. Rasulullah menjawab: Semoga Allah meringankan siksa kedua orang tersebut selama dua pelepah kurma ini belum kering
(Sahih al-Bukhari 1361)Lebih ditegaskan lagi dalam I’anah al-Thalibin
يُسَنُّ وَضْعُ جَرِيْدَةٍ خَضْرَاءَ عَلَى الْقَبْرِ لِلْإ تِّباَعِ وَلِأَنَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُ بِبَرَكَةِ تَسْبِيْحِهَا وَقيِْسَ بِهَا مَا اعْتِيْدَ مِنْ طَرْحِ نَحْوِ الرَّيْحَانِ الرَّطْبِ
Disunnahkan meletakkan pelepah kurma yang masih hijau di atas kuburan, karena hal ini adalah sunnah Nabi Muhammad Saw. dan dapat meringankan beban si mayat karena barokahnya bacaan tasbihnya bunga yang ditaburkan dan hal ini disamakan dengan sebagaimana adat kebiasaan, yaitu menaburi bunga yang harum dan basah atau yang masih segar.
(I’anah al-Thalibin, juz II, hal. 119)Dan ditegaskan juga dalam Nihayah al-Zain, hal. 163
وَيُنْدَبُ وَضْعُ الشَّيْءِ الرَّطْبِ كَالْجَرِيْدِ الْأَحْضَرِ وَالرَّيْحَانِ، لِأَنَّهُ يَسْتَغْفِرُ لِلْمَيِّتِ مَا دَامَ رَطْباً وَلَا يَجُوْزُ لِلْغَيْرِ أَخْذُهُ قَبْلَ يَبِسِهِ. (نهاية الزين 163
________________________________
Berdasarkan penjelasan di atas, maka memberi harum-haruman di pusara kuburan itu dibenarkan termasuk pula menyiram air bunga di atas pusara, karena hal tersebut termasuk ajaran Nabi (sunnah) yang memberikan manfaat bagi si mayi
"Wallohu A'lam Bis shawab"
Ilmu beladiri Islam adalah salah satu tekhnik beladiri yang diajarkan diperguruan yg notabene beragama Islam salah satunya adalah di Pondok Pesantren.
Dikalangan para santri beladiri Islam ini bukanlah hal yang baru tapi sudah diajarkan sejak lama oleh para pendahulu pendiri pondok pesantren, dengan tujuan supaya budaya Islam ini akan selalu ada sampai akhir dunia nanti. Selain untuk menjaga diri, beladiri Islam ini juga memperkenalkanjuga cirimerupakan salah satu ciri khas dari pondok pesantren yang harus dibudayakan oleh para santrinya, baik itu dimasyarakat ataupun dilembaga pesantrennya sendiri.
Salah satu ilmu beladiri yang dipelajari di pondok pesantren ini adalah jurus jeblag. Jurus jeblag ini merupakan salah satu ilmu beladiri Islam dengan tekhnik gerakan dan juga pernafasan, sehingga kalau seseorang sudah menguasai Ilmu jeblag ini dia akan mampu menghindari serangan musuh dan juga mampu memukul musuhnya dari jarak jauh.
Sebagai contohnya saya akan menampilkan video antraksi yang diambil dari perguruan Alhikmah Cisoka banten dan juga dari Pondok Pesantren Alhikmah Almahfudziyah Sukaraja-Sukabumi.
ini videonya: silahkan ditonton..
https://youtu.be/pnBqSfjrdv8
BELADIRI ISLAM JURUS JEBLAG PART 02
Ilmu beladiri Islam adalah salah satu tekhnik beladiri yang diajarkan diperguruan yg notabene beragama Islam salah satunya adalah di Pondok Pesantren.
Dikalangan para santri beladiri Islam ini bukanlah hal yang baru tapi sudah diajarkan sejak lama oleh para pendahulu pendiri pondok pesantren, dengan tujuan supaya budaya Islam ini akan selalu ada sampai akhir dunia nanti. Selain untuk menjaga diri, beladiri Islam ini juga memperkenalkanjuga cirimerupakan salah satu ciri khas dari pondok pesantren yang harus dibudayakan oleh para santrinya, baik itu dimasyarakat ataupun dilembaga pesantrennya sendiri.
Salah satu ilmu beladiri yang dipelajari di pondok pesantren ini adalah jurus jeblag. Jurus jeblag ini merupakan salah satu ilmu beladiri Islam dengan tekhnik gerakan dan juga pernafasan, sehingga kalau seseorang sudah menguasai Ilmu jeblag ini dia akan mampu menghindari serangan musuh dan juga mampu memukul musuhnya dari jarak jauh.
Sebagai contohnya saya akan menampilkan video antraksi yang diambil dari perguruan Alhikmah Cisoka banten dan juga dari Pondok Pesantren Alhikmah Almahfudziyah Sukaraja-Sukabumi.
ini videonya: silahkan ditonton..
https://youtu.be/pnBqSfjrdv8
Pendapat yang ashoh dalam madzhab syafi'i menyatakan bahwa suara wanita bukanlah aurot, karena istri-istri Nabi sendiri biasa meriwayatkan hadits kepada para lelaki, selain itu, dizaman nabi ketika ada seorang wanita meminta penjelasan tentang persoalan agama, para wanita menyampaikannya langsung pada Nabi, seperti dikisahkan dalam satu hadits ;
عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: دَخَلَتْ هِنْدٌ بِنْتُ عُتْبَةَ امْرَأَةُ أَبِي سُفْيَانَ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ، لَا يُعْطِينِي مِنَ النَّفَقَةِ مَا يَكْفِينِي وَيَكْفِي بَنِيَّ إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْ مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمِهِ، فَهَلْ عَلَيَّ فِي ذَلِكَ مِنْ جُنَاحٍ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خُذِي مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِي بَنِيكِ
"Dari ‘Aisyah berkata : Hindun bintu ‘Utbah yakni istri Abu Sufyan datang menemui Rasulullah saw lalu dia berkata : wahai Rasulullah, sungguh Abu Sufyan itu adalah laki-laki yang pelit (bakhil), dia tidak memberi nafkah kepada saya yang mencukupi kebutuhan saya maupun anak saya kecuali jika aya mengambil dari harta dia tanpa sepengetahuannya. Apakah perbuatan saya itu dosa? Maka Rasulullah saw menjawab : ambillah olehmu dari harta dia secukupnya hingga akan dapat memenuhi kebutuhan dirimu dan anakmu." (Shohih Muslim, no.1714)
Jadi, karena suara wanita bukanlah aurot menurut pendapat yang shohih, maka tidak diharamkan mendengarkan suaranya. Namun bagi seorang wanita hendaknya tidak merendahkan/melembutkan suaranya didepan laki-laki lain (laki-lakiyang bukan mahromnya) agar tidak menimbulkan fitnah. Alloh berfirman :
فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ
"Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya." (Q.S. Al-Ahzab : 32)
Yang dimaksud dengan tunduk di sini ialah berbicara dengan sikap yang menimbulkan keberanian orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan dalam hati mereka ada penyakit Ialah: orang yang mempunyai niat berbuat serong dengan wanita, seperti melakukan zina.
Karena itulah, meskipun suara wanita bukanlah aurot, tapi para ulama' menetapkan bahwa apabila orang yang mendengarnya takut menimbulkan fitnah atau merasa ladzdzah (enak), maka diharomkan baginya mendengar suara seorang wanita. Wallohu a'lam
Al-Bayan, Juz : 11 Hal : 188
وروت عائشة - رضي الله عنها -: أن هند امرأة أبي سفيان جاءت إلى النبي - صلى الله عليه وسلم -، وقالت: يا رسول الله، إن أبا سفيان رجل شحيح، وإنه لا يعطيني وولدي إلا ما آخذه منه سرا ولا يعلم، فهل علي في ذلك شيء؟ فقال - صلى الله عليه وسلم -: خذي ما يكفيك وولدك بالمعروف» قال أصحابنا: وفي هذا الخبر فوائد: -إلى أن قال- السابعة: أن صوت المرأة ليس بعورة
Al-Fiqhu Alal Madzahib Al-Arba'ah, Juz : 5 Hal : 53
حكم صوت المرأة
اختلف العلماء في صوت المرأة فقال بعضهم إنه ليس بعورة، لأن نساء النبي كن يروين الأخبار للرجال
Hasyiyah Qulyubi Ala Syarhil Mahalli, Juz : 1 Hal : 201
فائدة : صوت المرأة ليس بعورة على الصحيح فلا يحرم سماعه
Hasyiyah I'anatut Tholibin, Juz : 3 Hal : 302
قوله: وليس من العورة الصوت) أي صوت المرأة، ومثله صوت الامرد فيحل سماعه ما لم تخش فتنة أو يلتذ به وإلا حرم (قوله: فلا يحرم سماعه) أي الصوت. وقوله إلا إن خشي منه فتنة أو التذ به: أي فإنه يحرم سماعه، أي ولو بنحو القرآن، ومن الصوت: الزغاريد. وفي البجيرمي: وصوتها ليس بعورة على الاصح، لكن يحرم الاصغاء إليه عند خوف الفتنة
Al-Fiqhul Manhaji, Juz : 1 Hal : 164
ثانيا: تخفض المرأة صوتها في حضرة الرجال الأجانب، فلا تجهر بالصلاة الجهرية خشية الفتنة، قال تعالى: {فلا تخضعن بالقول فيطمع الذي في قلبه مرض} [الأحزاب: 32]. [تخضعن بالقول: تلين كلامكن. مرض: فسوق وقلة ورع]. وهذا يدل على أن صوت المرأة قد يثير الفتنة، فيطلب منها خفض الصوت بحضرة الأجانب
SUARA WANITA BUKANLAH AURAT
Pendapat yang ashoh dalam madzhab syafi'i menyatakan bahwa suara wanita bukanlah aurot, karena istri-istri Nabi sendiri biasa meriwayatkan hadits kepada para lelaki, selain itu, dizaman nabi ketika ada seorang wanita meminta penjelasan tentang persoalan agama, para wanita menyampaikannya langsung pada Nabi, seperti dikisahkan dalam satu hadits ;
عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: دَخَلَتْ هِنْدٌ بِنْتُ عُتْبَةَ امْرَأَةُ أَبِي سُفْيَانَ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ، لَا يُعْطِينِي مِنَ النَّفَقَةِ مَا يَكْفِينِي وَيَكْفِي بَنِيَّ إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْ مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمِهِ، فَهَلْ عَلَيَّ فِي ذَلِكَ مِنْ جُنَاحٍ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خُذِي مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِي بَنِيكِ
"Dari ‘Aisyah berkata : Hindun bintu ‘Utbah yakni istri Abu Sufyan datang menemui Rasulullah saw lalu dia berkata : wahai Rasulullah, sungguh Abu Sufyan itu adalah laki-laki yang pelit (bakhil), dia tidak memberi nafkah kepada saya yang mencukupi kebutuhan saya maupun anak saya kecuali jika aya mengambil dari harta dia tanpa sepengetahuannya. Apakah perbuatan saya itu dosa? Maka Rasulullah saw menjawab : ambillah olehmu dari harta dia secukupnya hingga akan dapat memenuhi kebutuhan dirimu dan anakmu." (Shohih Muslim, no.1714)
Jadi, karena suara wanita bukanlah aurot menurut pendapat yang shohih, maka tidak diharamkan mendengarkan suaranya. Namun bagi seorang wanita hendaknya tidak merendahkan/melembutkan suaranya didepan laki-laki lain (laki-lakiyang bukan mahromnya) agar tidak menimbulkan fitnah. Alloh berfirman :
فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ
"Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya." (Q.S. Al-Ahzab : 32)
Yang dimaksud dengan tunduk di sini ialah berbicara dengan sikap yang menimbulkan keberanian orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan dalam hati mereka ada penyakit Ialah: orang yang mempunyai niat berbuat serong dengan wanita, seperti melakukan zina.
Karena itulah, meskipun suara wanita bukanlah aurot, tapi para ulama' menetapkan bahwa apabila orang yang mendengarnya takut menimbulkan fitnah atau merasa ladzdzah (enak), maka diharomkan baginya mendengar suara seorang wanita. Wallohu a'lam
Al-Bayan, Juz : 11 Hal : 188
وروت عائشة - رضي الله عنها -: أن هند امرأة أبي سفيان جاءت إلى النبي - صلى الله عليه وسلم -، وقالت: يا رسول الله، إن أبا سفيان رجل شحيح، وإنه لا يعطيني وولدي إلا ما آخذه منه سرا ولا يعلم، فهل علي في ذلك شيء؟ فقال - صلى الله عليه وسلم -: خذي ما يكفيك وولدك بالمعروف» قال أصحابنا: وفي هذا الخبر فوائد: -إلى أن قال- السابعة: أن صوت المرأة ليس بعورة
Al-Fiqhu Alal Madzahib Al-Arba'ah, Juz : 5 Hal : 53
حكم صوت المرأة
اختلف العلماء في صوت المرأة فقال بعضهم إنه ليس بعورة، لأن نساء النبي كن يروين الأخبار للرجال
Hasyiyah Qulyubi Ala Syarhil Mahalli, Juz : 1 Hal : 201
فائدة : صوت المرأة ليس بعورة على الصحيح فلا يحرم سماعه
Hasyiyah I'anatut Tholibin, Juz : 3 Hal : 302
قوله: وليس من العورة الصوت) أي صوت المرأة، ومثله صوت الامرد فيحل سماعه ما لم تخش فتنة أو يلتذ به وإلا حرم (قوله: فلا يحرم سماعه) أي الصوت. وقوله إلا إن خشي منه فتنة أو التذ به: أي فإنه يحرم سماعه، أي ولو بنحو القرآن، ومن الصوت: الزغاريد. وفي البجيرمي: وصوتها ليس بعورة على الاصح، لكن يحرم الاصغاء إليه عند خوف الفتنة
Al-Fiqhul Manhaji, Juz : 1 Hal : 164
ثانيا: تخفض المرأة صوتها في حضرة الرجال الأجانب، فلا تجهر بالصلاة الجهرية خشية الفتنة، قال تعالى: {فلا تخضعن بالقول فيطمع الذي في قلبه مرض} [الأحزاب: 32]. [تخضعن بالقول: تلين كلامكن. مرض: فسوق وقلة ورع]. وهذا يدل على أن صوت المرأة قد يثير الفتنة، فيطلب منها خفض الصوت بحضرة الأجانب
1. Apabila area pemakamannya berada didalam masjid, maka;
• Tidak diperbolehkan masuk kearea pemakaman tersebut apabila tujuannya masuk adalah untuk berdiam diri ditempat tersebut, semisal untuk berziaroh, sebab wanita yang sedang haidh diharomkan berdiam diri didalam masjid.
• Diperbolehkan masuk ke area pemakaman tersebut apabila ia hanya lewat saja, dengan syarat ia benar - benar yakin bahwa darahnya tidak akan keluar dan menetes ke masjid, sebab wanita yang sedang haidh diperbolehkan lewat didalam masjid, namun apabila khawatir akan mengotori masjid, diharamkan masuk masjid meskipun hanya lewat saja.
2. Apabila area pemakamannya diluar masjid maka diperbolehkan baginya untuk memasuki area pemakaman tersebut, namun apabila tujuannya masuk ke area pemakaman tersebut adalah untuk berziaroh, hal yang harus diperhatikan adalah untuk tidak membaca al-qur’an (karena biasanya orang yang sedang ziaroh membaca yasin) dan tidak memegang mushaf al-qur’an, sebab wanita yang sedang haidh diharamkan membaca al-qur’an dan memegang mushaf al-qur’an. Wallohu a’lam.
Al-Fiqhul Manhaji, Juz : 1 Hal : 79
ما يحرم بالحيض
الصلاة: لأحاديث فاطمة بنت أبي حبيش رضي الله عنها السابقة في الاستحاضة
قراءة القرآن ومس المصحف وحمله لما مر ايضأ فيما يحرم بالجنابة رقم (4، 5
- المكث في المسجد لا العبور فيه: لما مر معك فيما يحرم بالجنابة رقم (2). ومما يدل على أن مجرد العبور لا يحرم، بالإضافة لما سبق: ما رواه مسلم (298) وغيره عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال لي رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: " ناوليني الخمرة من المسجد". فقلت: إني حائض، فقال: " إن حيضتك ليست في يدك".
وعن النسائي (1/ 147) عن ميمونة رضي الله عنها قالت: تقوم إحدانا بالخمرة إلى المسجد فتبسطها وهي حائض. [الخمرة: هي السجدة أو الحصير الذي يضعه المصلي ليصلي عليه أو يسجد -إلى أن قال
ويحرم على الحائض زيادة على ذلك أمور أخرى وهي: عبور المسجد والمرور فيه إذا خافت تلويثه، لأن الدم نجس ويحرم تلويث المسجد بالنجاسة وغيرها من الأقذار، فإذا أمنت التلويث حل لها المرور كما علمت
WANITA HAID MEMASUKI AREA PEMAKAMAN
1. Apabila area pemakamannya berada didalam masjid, maka;
• Tidak diperbolehkan masuk kearea pemakaman tersebut apabila tujuannya masuk adalah untuk berdiam diri ditempat tersebut, semisal untuk berziaroh, sebab wanita yang sedang haidh diharomkan berdiam diri didalam masjid.
• Diperbolehkan masuk ke area pemakaman tersebut apabila ia hanya lewat saja, dengan syarat ia benar - benar yakin bahwa darahnya tidak akan keluar dan menetes ke masjid, sebab wanita yang sedang haidh diperbolehkan lewat didalam masjid, namun apabila khawatir akan mengotori masjid, diharamkan masuk masjid meskipun hanya lewat saja.
2. Apabila area pemakamannya diluar masjid maka diperbolehkan baginya untuk memasuki area pemakaman tersebut, namun apabila tujuannya masuk ke area pemakaman tersebut adalah untuk berziaroh, hal yang harus diperhatikan adalah untuk tidak membaca al-qur’an (karena biasanya orang yang sedang ziaroh membaca yasin) dan tidak memegang mushaf al-qur’an, sebab wanita yang sedang haidh diharamkan membaca al-qur’an dan memegang mushaf al-qur’an. Wallohu a’lam.
Al-Fiqhul Manhaji, Juz : 1 Hal : 79
ما يحرم بالحيض
الصلاة: لأحاديث فاطمة بنت أبي حبيش رضي الله عنها السابقة في الاستحاضة
قراءة القرآن ومس المصحف وحمله لما مر ايضأ فيما يحرم بالجنابة رقم (4، 5
- المكث في المسجد لا العبور فيه: لما مر معك فيما يحرم بالجنابة رقم (2). ومما يدل على أن مجرد العبور لا يحرم، بالإضافة لما سبق: ما رواه مسلم (298) وغيره عن عائشة رضي الله عنها قالت: قال لي رسول الله - صلى الله عليه وسلم -: " ناوليني الخمرة من المسجد". فقلت: إني حائض، فقال: " إن حيضتك ليست في يدك".
وعن النسائي (1/ 147) عن ميمونة رضي الله عنها قالت: تقوم إحدانا بالخمرة إلى المسجد فتبسطها وهي حائض. [الخمرة: هي السجدة أو الحصير الذي يضعه المصلي ليصلي عليه أو يسجد -إلى أن قال
ويحرم على الحائض زيادة على ذلك أمور أخرى وهي: عبور المسجد والمرور فيه إذا خافت تلويثه، لأن الدم نجس ويحرم تلويث المسجد بالنجاسة وغيرها من الأقذار، فإذا أمنت التلويث حل لها المرور كما علمت
خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ إِلَى الْمُصَلَّى فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ قُلْنَ وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَاNamun dalam riawat lain dijelaskan bahwa kebanyakan penghuni surga juga wanita :
عنْ مُحَمَّدٍ، قَالَ: إِمَّا تَفَاخَرُوا وَإِمَّا تَذَاكَرُوا: الرِّجَالُ فِي الْجَنَّةِ أَكْثَرُ أَمِ النِّسَاءُ؟ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: أَوَ لَمْ يَقُلْ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، وَالَّتِي تَلِيهَا عَلَى أَضْوَإِ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ، لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ اثْنَتَانِ، يُرَى مُخُّ سُوقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ، وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ
"Dari Muhammad berkata: Mungkin mereka saling membangga-banggakan diri atau menyebut-nyebut bahwa kaum lelaki lebih banyak disurga dari pada kaum wanita, lalu Abu Hurairah berkata: Bukankah Abu Al Qasim Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Sesungguhnya golongan pertama yang masuk surga wujudnya seperti bulan di malam purnama, golongan selanjutnya wujudnya seperti bintang paling terang di langit dan setiap lelaki diantara mereka memiliki dua istri, tulang betis keduanya terlihat dari baik daging dan disurga tidak ada orang bujang."(Shohih Muslim, no.2834)Sekilas, nampak ada pertentangan antara 2 hadits diatas, dimana hadits yang pertama menjelaskan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah wanita, sebaliknya hadits kedua menjelaskan bahwa kebanyakan penghuni surga adalah wanita. Para ulama' memberikan penjelasan berbeda menanggapi dua riwayat yang seakan-akan bertentangan tersebut ;
1. Kedua hadits diatas mengisyaratkan bahwa jumlah wanita dudunia ini lebih banyak daripada laki-laki, karena itu baik disurga atau dineraka kebanyakan penghuninya adalah wanita.
2. Memang benar kebanyakan penghuni neraka adalah wanita sebelum Nabi memberikan syafa'atnya kepada orang-orang muslim ahli maksiat yang masuk neraka, setelah Nabi memberikan syafa'at pada ahli maksiat yang masuk neraka, dan banyak wanita ahli maksiat yang dikeluarkan dari neraka, akhirnya kebanyakan penghuni surga adalah wanita.
3. Yang dilihat Nabi pada saat itu memang kebanyakan penghuni neraka adalah wanita, namun ini tidak menutup kemungkinan jumlahnya mengalami perubahan.
Bagaimana pun, pesan yang ingin disampaikan dalam hadits yang menjelaskan bahwa kebanyakan penghuni neraka, seperti yang diriwayatkan Abu Sa'id Al Khudzri diatas adalah peringatan bagi wanita agar selalu mawas diri, memperbanyak melakukan kebaikan, menjaga lisannya dari ucapan-ucapan dosa, seperti melaknat seseorang dan berbuat baik terhadap suaminya, karena kebanyakan dari wanita kurang bisa menjaga lisannya dan kurang taat dan berani terhadap suaminya.
Jadi, hadit diatas sama sekali tidak bertentangan dengan realitas yang ada dimana kebanyakan yang memenuhi majlis-majlis ta'lim atau acara acara dan ritual keagamaan adalahg wanita, sebab yang ditekankan oleh nabi adalah kurang taatnya seorang wanita terhadap suaminya dan kurang bisa menjaga ucapannya, dua hal ini yang menjadi penyebab utama wanita masuk neraka. Wallohu a'lam.
Syarah Shohih Muslim Lin-Nawawi, Juz : 2 Hal : 66-67
حدثنا محمد بن رمح بن المهاجر المصري، أخبرنا الليث، عن ابن الهاد، عن عبد الله بن دينار، عن عبد الله بن عمر، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: «يا معشر النساء، تصدقن وأكثرن الاستغفار، فإني رأيتكن أكثر أهل النار» فقالت امرأة منهن جزلة: وما لنا يا رسول الله أكثر أهل النار؟ قال: «تكثرن اللعن، وتكفرن العشير، وما رأيت من ناقصات عقل ودين أغلب لذي لب منكن» قالت: يا رسول الله، وما نقصان العقل والدين؟ قال: " أما نقصان العقل: فشهادة امرأتين تعدل شهادة رجل فهذا نقصان العقل، وتمكث الليالي ما تصلي، وتفطر في رمضان فهذا نقصان الدين " وحدثنيه أبو الطاهر، أخبرنا ابن وهب، عن بكر بن مضر، عن ابن الهاد بهذا الإسناد مثله
...................................................
وأما أحكام الحديث ففيه جمل من العلوم منها الحث على الصدقة وأفعال البر والإكثار من الاستغفار وسائر الطاعات وفيه أن الحسنات يذهبن السيئات كما قال الله عزوجل وفيه أن كفران العشير والإحسان من الكبائر فإن التوعد بالنار من علامة كون المعصية كبيرة كما سنوضحه قريبا إن شاء الله تعالى وفيه أن اللعن أيضا من المعاصي الشديدة القبح وليس فيه أنه كبيرة فإنه صلى الله عليه وسلم قال تكثرن اللعن والصغيرة إذا أكثرت صارت كبيرة
Syarah Shohih Muslim Lin-Nawawi, Juz : 17 Hal : 66-67
حدثني عمرو الناقد، ويعقوب بن إبراهيم الدورقي، جميعا عن ابن علية - واللفظ ليعقوب - قالا: حدثنا إسماعيل ابن علية، أخبرنا أيوب، عن محمد، قال: إما تفاخروا وإما تذاكروا: الرجال في الجنة أكثر أم النساء؟ فقال أبو هريرة: أو لم يقل أبو القاسم صلى الله عليه وسلم: «إن أول زمرة تدخل الجنة على صورة القمر ليلة البدر، والتي تليها على أضوإ كوكب دري في السماء، لكل امرئ منهم زوجتان اثنتان، يرى مخ سوقهما من وراء اللحم، وما في الجنة أعزب؟
....................................
قال القاضي ظاهر هذا الحديث أن النساء أكثر أهل الجنة وفي الحديث الآخر أنهن أكثر أهل النار قال فيخرج من مجموع هذا أن النساء أكثر ولد آدم قال وهذا كله فى الآدميات والافقد جاء للواحد من أهل الجنة من الحور العدد الكثير
قال الحافظ: وفي حديث أبي سعيد عند مسلم في صفة أدنى أهل الجنة «ثم يدخل عليه زوجتاه» ولأبي يعلى عن أبي هريرة «فدخل الرجل على ثنتين وسبعين زوجة مما ينشىء الله زوجتين من ولد آدم» واستدل أبو هريرة بهذا الحديث على أن النساء في الجنة أكثر من الرجال كما أخرجه عنه مسلم في «صحيحه» وهو واضح، لكن يعارضه قوله في حديث الكسوف «أكثر أهل النار» . ويجاب بأنه لا يلزم من كون أكثرهن في النار، نفى كون أكثرهن في الجنة لكن يشكل عليه حديث اطلعت الخ، ويحتمل أن الراوي رواه بالمعنى الذي فهمه من أن كونهن أكثر ساكني النار يلزم منه كونهن أقل ساكني الجنة وليس ذلك بلازم لما قدمته، ويحتمل أن يكون ذلك في أول الأمر قبل خروج العصاة من النار بالشفاعة والله أعلم. قال شيخ الإسلام زكريا: ويجاب أيضاً بأن المراد بكونهن أكثر أهل النار نساء الدنيا وبكونهن أكثر أهل الجنة نساء الآخرة فلا تنافي اهـ
Mir'atul Mafatih Syarah Misykatul Mashobih, Juz : 1 Hal : 80-81
أكثر أهل النار) –إلى أن قال- ، ولا يعارض هذا ما أخرجه أبويعلى عن أبي هريرة في حديث الصور الطويل مرفوعاً: ((فيدخل الرجل على اثنتين وسبعين زوجة مما ينشئ الله وزوجتين من ولد آدم)) وغير ذلك من الأحاديث الدالة على كون الزوجتين من نساء الدنيا، وكثرة النساء في الجنة دون النار لأنه يحتمل أن يكون ذلك في أول الأمر قبل خروج العصاة من النار بالشفاعة، وقيل: كانت الأكثرية عند مشاهدته إذ ذاك ولا تنسحب على مجموع الزمان، فتأمل
http://fiqhkontemporer99.blogspot.com/2013/02/penjelasan-hadits-yang-menyatakan.html
KEBANYAKAN PENGHUNI NERAKA ADALAH WANITA
خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ إِلَى الْمُصَلَّى فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ قُلْنَ وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَاNamun dalam riawat lain dijelaskan bahwa kebanyakan penghuni surga juga wanita :
عنْ مُحَمَّدٍ، قَالَ: إِمَّا تَفَاخَرُوا وَإِمَّا تَذَاكَرُوا: الرِّجَالُ فِي الْجَنَّةِ أَكْثَرُ أَمِ النِّسَاءُ؟ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: أَوَ لَمْ يَقُلْ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، وَالَّتِي تَلِيهَا عَلَى أَضْوَإِ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ، لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ اثْنَتَانِ، يُرَى مُخُّ سُوقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ، وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ
"Dari Muhammad berkata: Mungkin mereka saling membangga-banggakan diri atau menyebut-nyebut bahwa kaum lelaki lebih banyak disurga dari pada kaum wanita, lalu Abu Hurairah berkata: Bukankah Abu Al Qasim Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Sesungguhnya golongan pertama yang masuk surga wujudnya seperti bulan di malam purnama, golongan selanjutnya wujudnya seperti bintang paling terang di langit dan setiap lelaki diantara mereka memiliki dua istri, tulang betis keduanya terlihat dari baik daging dan disurga tidak ada orang bujang."(Shohih Muslim, no.2834)Sekilas, nampak ada pertentangan antara 2 hadits diatas, dimana hadits yang pertama menjelaskan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah wanita, sebaliknya hadits kedua menjelaskan bahwa kebanyakan penghuni surga adalah wanita. Para ulama' memberikan penjelasan berbeda menanggapi dua riwayat yang seakan-akan bertentangan tersebut ;
1. Kedua hadits diatas mengisyaratkan bahwa jumlah wanita dudunia ini lebih banyak daripada laki-laki, karena itu baik disurga atau dineraka kebanyakan penghuninya adalah wanita.
2. Memang benar kebanyakan penghuni neraka adalah wanita sebelum Nabi memberikan syafa'atnya kepada orang-orang muslim ahli maksiat yang masuk neraka, setelah Nabi memberikan syafa'at pada ahli maksiat yang masuk neraka, dan banyak wanita ahli maksiat yang dikeluarkan dari neraka, akhirnya kebanyakan penghuni surga adalah wanita.
3. Yang dilihat Nabi pada saat itu memang kebanyakan penghuni neraka adalah wanita, namun ini tidak menutup kemungkinan jumlahnya mengalami perubahan.
Bagaimana pun, pesan yang ingin disampaikan dalam hadits yang menjelaskan bahwa kebanyakan penghuni neraka, seperti yang diriwayatkan Abu Sa'id Al Khudzri diatas adalah peringatan bagi wanita agar selalu mawas diri, memperbanyak melakukan kebaikan, menjaga lisannya dari ucapan-ucapan dosa, seperti melaknat seseorang dan berbuat baik terhadap suaminya, karena kebanyakan dari wanita kurang bisa menjaga lisannya dan kurang taat dan berani terhadap suaminya.
Jadi, hadit diatas sama sekali tidak bertentangan dengan realitas yang ada dimana kebanyakan yang memenuhi majlis-majlis ta'lim atau acara acara dan ritual keagamaan adalahg wanita, sebab yang ditekankan oleh nabi adalah kurang taatnya seorang wanita terhadap suaminya dan kurang bisa menjaga ucapannya, dua hal ini yang menjadi penyebab utama wanita masuk neraka. Wallohu a'lam.
Syarah Shohih Muslim Lin-Nawawi, Juz : 2 Hal : 66-67
حدثنا محمد بن رمح بن المهاجر المصري، أخبرنا الليث، عن ابن الهاد، عن عبد الله بن دينار، عن عبد الله بن عمر، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: «يا معشر النساء، تصدقن وأكثرن الاستغفار، فإني رأيتكن أكثر أهل النار» فقالت امرأة منهن جزلة: وما لنا يا رسول الله أكثر أهل النار؟ قال: «تكثرن اللعن، وتكفرن العشير، وما رأيت من ناقصات عقل ودين أغلب لذي لب منكن» قالت: يا رسول الله، وما نقصان العقل والدين؟ قال: " أما نقصان العقل: فشهادة امرأتين تعدل شهادة رجل فهذا نقصان العقل، وتمكث الليالي ما تصلي، وتفطر في رمضان فهذا نقصان الدين " وحدثنيه أبو الطاهر، أخبرنا ابن وهب، عن بكر بن مضر، عن ابن الهاد بهذا الإسناد مثله
...................................................
وأما أحكام الحديث ففيه جمل من العلوم منها الحث على الصدقة وأفعال البر والإكثار من الاستغفار وسائر الطاعات وفيه أن الحسنات يذهبن السيئات كما قال الله عزوجل وفيه أن كفران العشير والإحسان من الكبائر فإن التوعد بالنار من علامة كون المعصية كبيرة كما سنوضحه قريبا إن شاء الله تعالى وفيه أن اللعن أيضا من المعاصي الشديدة القبح وليس فيه أنه كبيرة فإنه صلى الله عليه وسلم قال تكثرن اللعن والصغيرة إذا أكثرت صارت كبيرة
Syarah Shohih Muslim Lin-Nawawi, Juz : 17 Hal : 66-67
حدثني عمرو الناقد، ويعقوب بن إبراهيم الدورقي، جميعا عن ابن علية - واللفظ ليعقوب - قالا: حدثنا إسماعيل ابن علية، أخبرنا أيوب، عن محمد، قال: إما تفاخروا وإما تذاكروا: الرجال في الجنة أكثر أم النساء؟ فقال أبو هريرة: أو لم يقل أبو القاسم صلى الله عليه وسلم: «إن أول زمرة تدخل الجنة على صورة القمر ليلة البدر، والتي تليها على أضوإ كوكب دري في السماء، لكل امرئ منهم زوجتان اثنتان، يرى مخ سوقهما من وراء اللحم، وما في الجنة أعزب؟
....................................
قال القاضي ظاهر هذا الحديث أن النساء أكثر أهل الجنة وفي الحديث الآخر أنهن أكثر أهل النار قال فيخرج من مجموع هذا أن النساء أكثر ولد آدم قال وهذا كله فى الآدميات والافقد جاء للواحد من أهل الجنة من الحور العدد الكثير
قال الحافظ: وفي حديث أبي سعيد عند مسلم في صفة أدنى أهل الجنة «ثم يدخل عليه زوجتاه» ولأبي يعلى عن أبي هريرة «فدخل الرجل على ثنتين وسبعين زوجة مما ينشىء الله زوجتين من ولد آدم» واستدل أبو هريرة بهذا الحديث على أن النساء في الجنة أكثر من الرجال كما أخرجه عنه مسلم في «صحيحه» وهو واضح، لكن يعارضه قوله في حديث الكسوف «أكثر أهل النار» . ويجاب بأنه لا يلزم من كون أكثرهن في النار، نفى كون أكثرهن في الجنة لكن يشكل عليه حديث اطلعت الخ، ويحتمل أن الراوي رواه بالمعنى الذي فهمه من أن كونهن أكثر ساكني النار يلزم منه كونهن أقل ساكني الجنة وليس ذلك بلازم لما قدمته، ويحتمل أن يكون ذلك في أول الأمر قبل خروج العصاة من النار بالشفاعة والله أعلم. قال شيخ الإسلام زكريا: ويجاب أيضاً بأن المراد بكونهن أكثر أهل النار نساء الدنيا وبكونهن أكثر أهل الجنة نساء الآخرة فلا تنافي اهـ
Mir'atul Mafatih Syarah Misykatul Mashobih, Juz : 1 Hal : 80-81
أكثر أهل النار) –إلى أن قال- ، ولا يعارض هذا ما أخرجه أبويعلى عن أبي هريرة في حديث الصور الطويل مرفوعاً: ((فيدخل الرجل على اثنتين وسبعين زوجة مما ينشئ الله وزوجتين من ولد آدم)) وغير ذلك من الأحاديث الدالة على كون الزوجتين من نساء الدنيا، وكثرة النساء في الجنة دون النار لأنه يحتمل أن يكون ذلك في أول الأمر قبل خروج العصاة من النار بالشفاعة، وقيل: كانت الأكثرية عند مشاهدته إذ ذاك ولا تنسحب على مجموع الزمان، فتأمل
http://fiqhkontemporer99.blogspot.com/2013/02/penjelasan-hadits-yang-menyatakan.html









